Pages

Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts

Sunday, April 28, 2013

Bismillah, Memulai Setiap Amalan/Rutinitas


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Bismillah, Memulai Setiap Amalan / RutinitasBismillah, perkataan yang kita ucapkan setiap akan memulai kegiatan mulia. dengan nama Allah kita memulai nafas kita, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, dan pada setiap detail kehidupan kita. Mengharapkan ridho dan berkah-Nya.

Ucapkanlah bismillah dalam setiap amalan agar amalan tersebut berberkah dan bernilai ibadah. Rosulullah –sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :

كل أمر ذي بال لم يبدأ فيه باسم الله فهو أبتر

Artinya : "Setiap amalan yang terdapat kepentingan didalamnya jika tidak dimulai dengan (menyebut) nama Allah maka terputus." (HR Abu Daud dan An-Nasai)

Setiap amalan, baik itu yang bersifat ibadah atau rutinitas yang memiliki kepentingan jika tidak diawali dengan nama Allah maka tidak akan mendapatkan berkah atau kurang berkahnya.

Seperti makan misalnya, makan adalah rutinitas yang kita lakukan setiap hari, bahkan 3 kali sehari. Ketika kita makan tanpa mengucapkan basmalah terlebih dahulu, maka makanan yang kita makan akan kurang berkahnya atau mungkin sama sekali tidak ada berkahnya. Akibatnya makanan yang kita makan tidak akan menguatkan badan kita untuk menjalankan aktifitas seperti bekerja dan beribadah. Bahkan yang lebih buruk lagi, bisa mengakibatkan penyakit dalam tubuh kita.

Tidur, ketika kita tidak mengawalinya dengan nama Allah dan dengan adab-adab yang Rosulullah –sholallahu ‘alaihi wasallam- ajarkan. Bisa jadi menyebabkan badan lesu dan kurang bersemangat. Pekerjaan menjadi terhambat. Dan ibadah pun menjadi kurang maksimal. Dan masih banyak lagi amalan dan rutinitas yang sewajarnya kita selalu mengawalinya dengan mengucapkan nama-Nya.
Judul artikel : Bismillah, Memulai Setiap Amalan/Rutinitas
Penulis : Hery Prasetyo
Waktu : Selasa, 21 Februari 2012


Read more: http://www.artikelislami.com/2012/02/bismillah-memulai-setiap-amalan.html#ixzz2RowcR3oW

Meraih Kemuliaan Dengan memaafkan


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Meraih Kemuliaan Dengan MemaafkanSudah menjadi konsekuensi dalam kehidupan bermasyarakat adalah timbulnya berbedaan dan kesalahan. entah kita yang berbuat salah kepada orang lain atau orang lain yang berbuat salah kepada kita.

Sudah semestinya orang yang berbuat salah untuk segera meminta maaf kepada orang yang menjadi korbannya. akan tetapi tidak harus si korban memaafkan setiap kesalahan itu. karena memaafkan adalah hak setiap individu.

Akan tetapi Islam selalu menganjurkan setiap ummatnya untuk bersifat pemaaf. karena memaafkan adalah sikap terpuji. memaafkan adalah tindakan baik dan termasuk amal sholeh. bahkan Allah memberi nilai plus untuk bagi hambaNya yang memaafkan kesalahan orang lain. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

Artinya : "Dan tidaklah Allah menambahkan bagi seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan." (HR Muslim)

Kemuliaan yang dimaksud adalah kemuliaan diakherat dan pahala yang besar. akan tetapi Allah juga memberi bonus yaitu kemuliaan didunia. jadi, bagi pemaaf akan mendapatkan 2 kemuliaan yaitu kemuliaan didunia dan akherat.

Melalui artikel ini, saya mengajak para pembaca untuk menjadi orang yang pemaaf bagi siapa saja yang memiliki salah kepada kita, sebisa mungkin untuk memaafkan sebelum pelaku meminta maaf. jika kesalahan tersebut terlalu besar, setidaknya kita berusaha untuk memaafkan walau belum mampu.
Judul artikel : Meraih Kemuliaan Dengan Memaafkan
Penulis : Hery Prasetyo
Waktu : Kamis, 30 Agustus 2012


Read more: http://www.artikelislami.com/2012/08/meraih-kemuliaan-dengan-memaafkan.html#ixzz2Row9uxMf

Wednesday, March 20, 2013

Luruskan Niat Dalam Persahabatan


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Luruskan Niat Dalam PersahabatanSeorang sahabat bisa lebih baik dan lebih dekat dari pada saudara atau keluarga, sahabat juga bisa menjadi seorang yang lebih jahat dari pada penjahat sekalipun. itu semua tergantung bagaimana cara kita berteman, dan teman seperti apa yang kita pilih.

Islam selalu menuntun kita kepada hal yang baik. dalam hal persahabatan juga, pertama dalam hal niat kita diperintahkan untuk meniatkan dalam persahabatan hanya untuk menggapai ridho Allah. bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. dan sebagai contoh adalah persahabatan antara Nabi -sholallahu 'alaihi wasallam- dan para sahabat-sahabatnya.

Coba renungkan ayat berikut :

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Artinya : "Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS Az-Zukhruf : 67)

Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat diatas : Dua sahabat yang didasari oleh iman dan dua sahabat yang didasari kekufuran.

Setelah salah seorang dari sahabat yang beriman meninggal, dia diberitakan akan tempatnya di surga. maka diapun ingat terhadap sahabatnya yang masih hidup, dan berdoa : Ya Allah, bahwa sifulan itu adalah sahabat hamba. dia selalu mengingatkan hamba untuk taat kepadaMu dan taat kepada RosulMu. dan memerintahkan hamba untuk selalu berbuat baik dan menjauhi yang mungkar. dan juga mengingatkan hamba akan kematian. Ya Allah, janganlah Engkau sesatkan dia dan perlihatkanlah kepadanya balasan (surga) sebagaimana Engkau perlihatkan kepada hamba. dan ridhoilah dia sebagaimana Engkau meridhoi hamba. maka dikatakan kepadanya : pergilah (kesurga) dan jika kamu mengetahui apa balasan untuknya niscaya kamu akan banyak tertawa dan sedikit menangis.

Dan tatkala yang satunya meninggal. ruh mereka berdua dikumpulkan dan mereka berdua diperintahkan untuk memuji satu sama lain. maka mereka saling mengatakan : sebaik-baiknya saudara, dan sebaik-baiknya teman.

Salah satu sahabat yang kafir meninggal, dan diberi kabar tentang tempatnya di neraka. maka diapun ingat terhadap sahabatnya. maka dia berdoa : ya Allah, si fulan adalah sahabatku. dia selalu memerintahkanku untuk bermaksiat kepadaMu dan RosulMu. dan memerintahkanku untuk mengerjakan hal-hal yang buruk dan menjauhi hal-hal yang baik. dan mengatakan kepadaku bahwa aku tidak akan bertemu denganMu.

Ya Allah. janganlah Engkau beri hidayah kepadanya sampai Engkau melihatkan balasan atasnya seperti balasan atasku. dan bencilah dia sebagaimana engkau membenciku. 

Ketika sahabat yang satunya meninggal, dikumpulkanlah ruh mereka berdua dan diperintahkan untuk saling mencela, maka mereka saling mengatakan : seburuk-buruknya saudara, dan seburuk-buruknya teman.

Ibnu Abbas berkata : setiap sahabat akan menjadi musuh kelak di akherat kecuali yang menjadikan ketakwaan sebagai dasar dalam persahabatan.

Sudahkan anda memiliki sahabat yang selalu mengingatkan akan ketaatan kepada Allah dan RosulNya ? dan yang paling penting adalah, sudahkah anda menjadi seorang sahabat yang selalu mengingatkan sahabat anda dalam kebaikan ?
Judul artikel : Luruskan Niat Dalam Persahabatan
Penulis : Hery Prasetyo
Waktu : Jumat, 02 November 2012


Read more: http://www.artikelislami.com/2012/11/luruskan-niat-dalam-persahabatan.html#ixzz2O9aOBjhF

Katakanlah Kebenaran walau itu pahit !



"قل الحق ولو كان مرا"
"Qullil haqqa walau kaana murran"
"Katakanlah kebenaran walau itu pahit"

Kalimat itu cukup jarang saya dengar, dan saya menemukannya dalam suatu novel islami. Kenapa saya bilang jarang mendengar, karena saya lebih sering mendengar orang berbicara, "kami berbohong untuk kebaikan", atau "Allah juga tahu kami berbohong karena alasan yang baik".

Begitu juga dengan kejadian-kejadian di sekitar kita, yang secara tidak langsung melegalkan kebohongan karena alasan yang dianggap baik. Kebohongan yang dilakukan dalam hal-hal kecil ini akan membiasakan kita untuk hidup acuh tak acuh terhadap lingkungan kita. Misalnya, ada seorang mahasiswa merusak suatu alat di laboratorium, kita yang melihatnya justru tidak melaporkannya pada laboran, karena alasan "nanti kalau dilaporkan, kasian, dia akan kena hukuman, atau harus membayar uang untuk menggantinya". Sekilas mungkin kita terlihat membantu teman kita itu, tetapi konsekuensi dari kebohongan kita yaitu saat alat itu akan dipakai oleh orang lain, tentu alat tersebut tidak dapat digunakan. Mulai muncul fitnah dan pergunjingan yang berlarut-larut. Hal ini justru menambah masalah baru.

Contoh lain, misalnya, kita melihat Ibu kita keluar dari rumah tidak menutup auratnya dengan jilbab. Maka seharusnya kita mengingatkan pada beliau dengan pelan-pelan dan sopan, bahwa hal tersebut dilarang Allah. Bukannya malah membiarkannya karena alasan "khawatir Ibu tersinggung saat diingatkan".

Marilah kita membiasakan berkata jujur akan suatu kebenaran, walaupun kebenaran yang kita sampaikan itu bernilai pahit bagi kita atau orang lain.

Friday, June 1, 2012

Kemewahan, Keserakahan, Kesederhanaan, dan Kemiskinan

Hidup bermewah-mewahan/foya-foya dapat membuat orang jadi serakah. Untuk hidup mewah orang perlu uang yang banyak. Meski penghasilannya besar, tapi kalau pengeluarannya lebih besar lagi maka itu seperti lebih besar pasak daripada tiang. Dia akan berusaha mencari uang lebih banyak lagi.


Ada yang memakai credit card sehingga terlibat hutang dan berhadapan dengan debt collector. Ada yang berhutang kemudian tidak mengembalikannya. Ada kenalan yang mencoba meminjam uang puluhan juta rupiah ke saya. Padahal saya sehari-hari hanya naik angkot dan dia ke mana-mana naik mobil ber-AC. Belakangan ada teman saya yang lapor ke saya bahwa saudaranya tak dibayar ketika kerjasama dengan orang tersebut. Banyak juga pejabat yang korupsi agar bisa punya banyak rumah dan mobil mewah. Itulah akibat gaya hidup mewah yang berlebihan. Membuat seseorang jadi zhalim terhadap orang lain.


Ada pula yang melakukan monopoli sehingga merugikan pihak lain. Sebagai contoh 69,4 juta hektar tanah di Indonesia dikuasai oleh 652 pengusaha saja. Sementara jutaan petani tanahnya kurang dari setengah hektar bahkan ada yang tak punya tanah hingga hidup miskin. Padahal jika tanah itu dibagi dengan adil, niscaya kemiskinan yang melanda petani yang tak punya tanah sehingga hanya bisa jadi buruh tani bisa dikurangi.


Homo homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.


Gandhi berkata, “Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan segelintir kecil orang yang serakah.”


Nabi Muhammad SAW berkata : “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ingin memiliki lembah emas kedua ; seandainya ia memiliki lembah emas kedua, ia ingin memiliki lembah emas yang ketiga. Baru puas nafsu anak Adam kalau sudah masuk tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang mau kembali kepada-Nya.” (hadis riwayat :Bukhori Muslim)


Pernyataan di atas menunjukkan bahwa keserakahan itu tidak ada habisnya. Kelaparan dan kemiskinan terjadi karena adanya orang-orang yang serakah menumpuk harta dan tidak mau membagi hartanya kepada orang yang miskin.


Di majalah Fortune ditulis orang terkaya di dunia Carlos Slim memiliki harta 59 milyar dollar atau Rp 554 trilyun lebih sementara Bill Gates 56 milyar dollar dan Lakshmi Mittal dengan harta US$ 32 milyar. Kekayaan 1000 orang terkaya di dunia versi Forbes mencapai 33.000 trilyun rupiah.


Jika 1000 orang cukup puas dengan rp 10 milyar dan sisanya disedekahkan, maka 6,6 milyar penduduk dunia masih bisa menikmati hampir Rp 5 juta per orang atau Rp 20 juta per keluarga. Kemiskinan absolut bisa dihindari. Jika 10 juta orang terkaya mau bersedekah dan tidak menumpuk harta terlalu banyak niscaya orang miskin tidak akan ada yang menderita kelaparan.


Oleh karena itu Allah meminta agar harta jangan ditumpuk saja oleh para orang kaya. Namun juga disedekahkan ke orang-orang miskin:


”…supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” [Al Hasyr:7]


Kita dilarang hidup boros dan bermewah-mewahan sehingga harta yang bisa disedekahkan tinggal sedikit: Orang yang boros dan hidup mewah disebut sebagai saudaranya setan. Bagaimana mungkin sementara banyak orang kelaparan dia malah foya-foya?


”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]


”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takaatsur:1]


Nabi Muhammad sendiri selaku Nabi dan pimpinan negara di mana kerajaan Romawi dan Persia sudah hampir jatuh di tangannya menolak hidup mewah. Pada zaman Sahabat kedua kerajaan besar itu takluk di tangan Islam. Tidak seperti Raja Romawi dan Persia yang hidup mewah bergelimang harta, beliau hidup sederhana. Nabi tidur hanya beralaskan pelepah kurma sementara perabot rumahnya sedikit sekali sehingga membuat Umar ra menangis terharu:


Kisah Umar ra: Aku (Umar) lalu segera masuk menemui Rasulullah saw. yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan. Rasulullah bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi) dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini. Rasulullah saw. lalu bersabda: Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? [Muslim]


Keluarga Nabi tidak pernah 3 hari berturut-turut makan dengan kenyang. Selalu ada saat kelaparan setiap 3 hari. Ini beda dengan sebagian ummat Islam yang menganggap minum kopi seharga Rp 37 ribu lebih kalau sesuai ”kelasnya” tidak masalah padahal dengan Rp 3 ribu juga sudah dapat. Padahal jabatannya jauh di bawah Nabi baik jabatan ukhrowi mau pun duniawi:


‘Aisyah melaporkan: Tidak pernah keluarga Muhammad (SAW) makan sampai kenyang dengan roti gandum untuk tiga malam berturut-turut sejak kedatangan mereka di Medina hingga wafatnya” [Muslim]


Beda dengan sebagian pejabat Muslim yang memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri dan keluarganya sehingga tidak habis untuk 7 turunan, Nabi tetap hidup sederhana dan tidak memperkaya diri. Ketika meninggal, Nabi tidak meninggalkan harta warisan:


Dari Aisya r.s Katanya : “Rasulullah SAW tidak meninggalkan harta warisan, walaupun agak sedinar, atau sedirham; tidak pula kambing, tidak pula unta, dan beliau tidak pula berwasiat sesuatu apa pun.


Nabi sederhana bukan terpaksa. Sebagai pemimpin negara dia bisa hidup mewah seperti Raja Romawi dan Persia. Tapi segala harta yang dia dapat langsung disedekahkan untuk fakir miskin.


Istri Nabi, ’Aisyah berkata bahwa pernah Nabi pagi-pagi mendapat hadiah yang banyak. Namun sebelum petang tiba harta tersebut sudah habis dibagikan untuk fakir miskin. Itulah akhlak Nabi sesuai ayat Al Qur’an di bawah:


Allah SWT berkata, ”Engkau tak akan mendapatkan kebaikan apa pun hingga kalian menyedekahkan sebagian harta yang paling kalian cintai.Ketahuilah, apa pun yang kalian infakkan, Allah pasti mengetahuinya.” (Ali ‘Imran: 92).


Hadis dari Abu Musa R.A. bekata bahwa Nabi SAW bersabda, “Tiap Muslim wajib bersedekah.” Sahabat bertanya, “Jika tidak dapat?” Nabi menjawab, “Bekerjalah dengan tangannya yang berguna bagi dirinya dan ia dapat bersedekah.” Sahabat bertanya lagi, “Jika tidak dapat,” jawab Nabi, “Membantu orang yang sangat membutuhkan.” Sahabat bertanya lagi, “Jika tidak dapat?” Jawab Nabi, “Menganjurkan kebaikan.” Sahabat bertanya lagi, “Jika tidak dapat?” Nabi menjawab, “Menahan diri dari kejahatan, maka itu sedekah untuk dirinya sendiri.”


Tak pantas kita hidup mewah dan mempromosikan kemewahan sementara banyak orang miskin di sekeliling kita. Banyak anak-anak dan balita-balita miskin yang berkeliaran di jalan untuk mencari makan. Mereka bukan hanya menghadapi kemiskinan, tapi juga mendapat resiko diperkosa oleh orang-orang dewasa. Harusnya dengan uang yang ada kita membantu mereka ke luar dari kemiskinan sehingga tidak berkeliaran di jalan mencari uang.


Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

Itulah orang yang menghardik anak yatim,

dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. [Al Maa’uun:1-3]


Selama kita hidup mewah dan tidak mau menolong atau memberi makan anak yatim maka kita tak lain hanyalah pendusta agama. Segala ibadah sholat, puasa, dan haji yang kita lakukan tak lebih dari sekedar dusta.


Di akhirat nanti bukan hanya ditanya apakah harta kita dapat dari jalan yang halal. Tapi juga ditanya untuk apa harta kita habiskan. Jika kita tidak membayar zakat dan enggan memberi sedekah, maka kita dianggap kotor.


”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” [At Taubah:103]


Meski kita tetap harus berikhtiar, namun biasakan hidup qana’ah (merasa cukup) dan bersyukur niscaya anda akan bahagia. Orang yang serakah dan tidak pernah merasa puas, selalu merasa ada yang kurang dan tidak bahagia.


Jadi hentikan keserakahan dan gaya hidup mewah atau boros ala raja Romawi dan Persia. Ikuti sunnah Nabi yang hidup sederhana dan rajin bersedekah.


Berita kekerasan terhadap anak jalanan:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/13/jatim/179383.htm

Sudah lazim dialami mereka ditipu teman sendiri, dicacimaki oleh anak sebaya yang lebih kaya, dituduh mencuri, disodomi oleh orang dewasa atau temannya yang lebih besar

Di Surabaya, anak jalanan laki-laki yang pernah mendapat perlakuan kekerasan seks dalam bentuk sodomi sebanyak 18 anak (2,3 persen). Sementara yang pernah diperkosa sebanyak empat anak jalanan lakilaki (0,5 persen), sedangkan anak jalanan perempuan yang pernah diperkosa sebanyak satu orang.

BAGONG SUYANTO, Dosen FISIP Universitas Airlangga, peneliti pada Divisi Litbang Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur.


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/13/metro/3528092.htm

Yusup tewas mengenaskan. Bahkan, dari hasil visum ahli forensik, bocah itu pernah diperkosa sebelum dibunuh

Kasus pencabulan dan pembunuhan terhadap anak jalanan oleh Robot Gedek pada 11 tahun silam atau kasus serupa yang menimpa Henny Febrina Purnamasari, siswi kelas VI, di Pondok Gede, Kota Bekasi, oleh seorang sopir “tembak” membuktikan bahwa jalanan di kota-kota besar menyimpan ancaman serius bagi anak-anak.

http://syiarislam.wordpress.com/2007/11/30/kemewahan-keserakahan-kesederhanaan-dan-kemiskinan/

Sikap Seorang Muslim

Mencintai Allah dan RasulNya di Atas yang Lainnya


Seorang Muslim wajib mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada yang lain termasuk bapak, anak, istri, saudara, kekayaan.


Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS At Taubah: 24)


Allah telah memberikan kita hidup, tubuh, air, udara, jagad raya sehingga kita bisa hidup seperti sekarang ini. Tak dapat kita menghitung nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita.


“Dan Dia telah memberikan kepadamu keperluanmu dan segala apa yang kamu mohon kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [Ibrahim:34]


Oleh karena itu sepatutnya kita mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lain.


Jika kita mencintai Allah, niscaya kita selalu bahagia karena Allah selalu bersama kita. Sebaliknya jika kita mencintai yang lain, maka kita akan sedih dan bahkan frustrasi jika yang kita cintai itu meninggalkan kita. Tak jarang kita mendengar orang jadi gila atau bunuh diri karena kekayaannya lenyap atau putus cinta dengan pacarnya.


Ikhlas Untuk Allah Ta’ala


Setiap shalat kita membaca Doa Iftitah yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah semesta alam.”


Kita hidup bukan untuk mencari ketenangan atau pun kesenangan di dunia. Tapi untuk mengabdi kepada Allah yang telah memberikan segalanya bagi kita, meski nanti kita bisa merasakan pahitnya cobaan itu.


Tak jarang dalam mengabdi kepada Allah seperti amar ma’ruf nahi munkar dan melakukan syiar Islam Nabi mendapat tentangan yang hebat. Dari dilempari tahi unta, diejek, dikucilkan, hingga hendak dibunuh semua telah dialami oleh Nabi.


“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [Al Baqarah:214]


Tapi keimanan yang kuat membuat Rasul dan orang-orang yang beriman tetap sabar dan tabah dalam menghadapi hidup. Semua dilakukan untuk Allah. Bukan pamer/riya agar dilihat orang. Bukan pula Sum’ah agar didengar orang.


Contoh lucu bagi orang yang berbuat baik tapi tidak ikhlas demi Allah adalah Caleg yang menyumbang TV ke masyarakat dan ada juga yang menyumbang karpet ke ibu-ibu pengajian. Namun begitu mereka kalah dan tidak terpilih, segera mereka ambil lagi TV dan Karpet itu sehingga mendapat protes dari warga yang telah menerimanya.

Sikap ikhlas untuk Allah semata dalam beribadah dan berbuat kebaikan akan membuat jiwa kita tenang dan mendapat kenikmatan surga di akhirat nanti:

“Hai jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” [Al Fajr:27-30]


Sabar Menghadapi Cobaan


Seorang Muslim senantiasa bersabar terhadap cobaan yang mereka terima.

“Dan sesungguhnya telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka…” [Al An’aam:34]

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun “ [Al Baqarah:155-156]


Orang yang beriman menjadikan sabar dan shalat kepada Allah sebagai penolong mereka:

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al Baqarah:153]

Orang yang tidak sabar hanya akan merasakan kemarahan, keputus-asaan, dan kesedihan. Belum lagi azab dari Allah yang azabnya begitu pedih.


Selalu Bersyukur kepada Allah


“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. “ [An Nahl:78]


Kita juga harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita seperti pendengaran, penglihatan, hati, dan juga pengetahuan.


Luqman seorang yang diberi Allah kebijaksanaan menasehati anaknya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah.


“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Luqman:12]


“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Ibrahim:7]


Sebagai tanda syukur kita kepada Allah SWT banyak yang bisa kerjakan mulai dari mengerjakan perintahnya hingga menjauhi larangannya. Dengan sering beribadah kepada Allah, shalat, puasa, zakat, dan bersedekah kepada fakir miskin dan menyantuni anak yatim itu merupakan satu bentuk syukur kepada Allah.


Bertawakal dan Berserah Diri Kepada Allah


Ummat Islam selain harus berikhtiar dan berdoa juga harus bertawakkal dan berserah diri kepada Allah:


“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri.” [Ibrahim:12]


Kita harus yakin bahwa apa pun hasilnya, itulah yang terbaik bagi kita.


“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216]


Kadang yang kita benci boleh jadi sebetulnya amat baik bagi kita. Begitu pula sebaliknya. Allah Maha Tahu. Allah tahu yang terbaik bagi kita karena Dia adalah Pencipta Segalanya. Sementara manusia adalah makhluk yang tidak mengetahui meski sering sok tahu. Kita harus sadar bahwa Allah yang menciptakan Alam Semesta itu Maha Tahu. Sementara manusia yang tidak mampu menciptakan seekor lalat pun adalah makhluk yang tidak mengetahui kecuali secuil ilmu yang telah diberikan Allah kepada mereka.


Rendah Hati

Seorang Muslim selalu rendah hati.

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” [Al Furqon:63]

Allah marah pada orang yang sombong dan takabur:

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menganggap besar dirinya dan bersikap sombong dalam berjalan, ia akan menemui Allah dalam keadaan amat marah kepadanya.” Riwayat Hakim dan para perawinya dapat dipercaya.

Mengapa Iblis dilaknat Allah? Karena Iblis sombong dan merasa lebih baik dari yang lain:

“Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” [Shaad:76]


Qana’ah dan Sederhana


Meski Allah memerintahkan manusia untuk berusaha dan mencari kurnia Allah, namun Allah memerintahkan manusia untuk tidak menumpuk harta dan bermegah-megahan. Sebaliknya menggunakan hartanya di jalan Allah dengan membayar zakat, sedekah, membantu fakir miskin dan anak yatim serta kerabat.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takaatsur:1]

“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.” [Ar Ruum:38]

Nabi Muhammad meski merupakan pemimpin negara di mana 2 negara Super Power dunia, Kerajaan Romawi dan Persia, sudah nyaris jatuh ke tangannya, tetap hidup sederhana. Tidak bermewah-mewahan macam para pejabat kita sekarang ini. Kata Siti Aisyah tidak pernah keluarga Nabi makan kenyang selama 3 hari berturut-turut. Umar ra pernah menangis melihat Nabi tinggal di rumah yang nyaris tidak ada perabotan dan tidur di atas pelepah kurma.

Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas). (HR. Al Hakim)

Saat ini kita lihat banyak ummat Islam yang bermewah-mewahan seperti di Dubai orang membangun gedung tertinggi dan hotel yang mewah. Sementara orang-orang kafir dengan mudah menyerbu dan membantai ummat Islam di Palestina, Iraq, Afghanistan, Chechnya, dan sebagainya. Itu karena ummat Islam sekarang kena penyakit Wahn: Cinta Dunia dan Takut Mati:

Rasulullah SAW bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)

Itulah beberapa sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim. Semoga kita semua bisa memilikinya.

http://syiarislam.wordpress.com/2009/04/17/sikap-seorang-muslim/

Penyakit Riya, Bakhil dan Kikir

Riya

Riya adalah berbuat kebaikan/ibadah dengan maksud pamer kepada manusia agar orang mengira dan memujinya sebagai orang yang baik atau gemar beribadah seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya.

Ciri-ciri riya:

Orang yang riya berciri tiga, yakni apabila di hadapan orang dia giat tapi bila sendirian dia malas, dan selalu ingin mendapat pujian dalam segala urusan. Sedangkan orang munafik ada tiga tanda yakni apabila berbicara bohong, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Ibnu Babawih).



Orang yang riya’, maka amal perbuatannya sia-sia belaka.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia” [QS. Al-Baqarah: 264]


“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” [Al Maa’uun 4-6]

Riya membuat amal sia-sia sebagaimana syirik. (HR. Ar-Rabii’)

Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil. (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Imam Al Ghazali mengumpamakan orang yang riya itu sebagai orang yang malas ketika dia hanya berdua saja dengan rajanya. Namun ketika ada budak sang raja hadir, baru dia bekerja dan berbuat baik untuk mendapat pujian dari budak-budak tersebut.

Nah orang yang riya juga begitu. Ketika hanya berdua dengan Allah Sang Raja Segala Raja, dia malas dan enggan beribadah. Tapi ketika ada manusia yang tak lebih dari hamba/budak Allah, maka dia jadi rajin shalat, bersedekah, dan sebagainya untuk mendapat pujian para budak. Adakah hal itu tidak menggelikan?

Agar terhindar dari riya, kita harus meniatkan segala amal kita untuk Allah ta’ala (Lillahi ta’ala).

Bakhil atau Kikir

Bakhil alias Kikir alias Pelit alias Medit adalah satu penyakit hati karena terlalu cinta pada harta sehingga tidak mau bersedekah.

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Ali ‘Imran 180]

Padahal segala harta kita termasuk diri kita adalah milik Allah. Saat kita lahir kita tidak punya apa-apa. Telanjang tanpa busana. Saat mati pun kita tidak membawa apa-apa kecuali beberapa helai kain yang segera membusuk bersama kita.

Sesungguhnya harta yang kita simpan itu bukan harta kita yang sejati. Saat kita mati tidak akan ada gunanya bagi kita. Begitu pula dengan harta yang kita pakai untuk hidup bermegah-megahan seperti beli mobil dan rumah mewah.

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa” [Al Lail 8-11]

Yang justru jadi harta yang bermanfaat bagi kita di akhirat nanti adalah harta yang kita belanjakan di jalan Allah atau disedekahkan. Harta tersebut akan jadi pahala yang balasannya adalah istana surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” [Al Hadiid 21]

http://syiarislam.wordpress.com/2009/10/19/penyakit-riya-bakhil-dan-kikir/

Penyakit Hati Sombong, Iri, dan Dengki dan Cara Mengobatinya

Hati (bahasa Arab Qalbu) adalah bagian yang sangat penting daripada manusia. Jika hati kita baik, maka baik pula seluruh amal kita:

Rasulullah saw. bersabda, “….Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam Al-Bukhari)


Sebaliknya, orang yang dalam hatinya ada penyakit, sulit menerima kebenaran dan akan mati dalam keadaan kafir.

“Orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya yang telah ada dan mereka mati dalam keadaan kafir.” [At Taubah 125]

Oleh karena itu penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik karena bisa mengakibatkan kesengsaraan di neraka yang abadi.

Kita perlu mengenal beberapa penyakit hati yang berbahaya serta bagaimana cara menyembuhkannya.

Sombong

Sering orang karena jabatan, kekayaan, atau pun kepintaran akhirnya menjadi sombong dan menganggap rendah orang lain. Bahkan Fir’aun yang takabbur sampai-sampai menganggap rendah Allah dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kenyataannya Fir’aun adalah manusia yang akhirnya bisa mati karena tenggelam di laut.

Allah melarang kita untuk menjadi sombong:

“Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’ 37]


“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Luqman 18]

Allah menyediakan neraka jahannam bagi orang yang sombong:

“Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .” [Al Mu’min 76]

Kita tidak boleh sombong karena saat kita lahir kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Kita tidak punya kekayaan apa-apa. Bahkan pakaian pun tidak. Kecerdasan pun kita tidak punya. Namun karena kasih-sayang orang tua-lah kita akhirnya jadi dewasa.

Begitu pula saat kita mati, segala jabatan dan kekayaan kita lepas dari kita. Kita dikubur dalam lubang yang sempit dengan pakaian seadanya yang nanti akan lapuk dimakan zaman.

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ “Uluumuddiin menyatakan bahwa manusia janganlah sombong karena sesungguhnya manusia diciptakan dari air mani yang hina dan dari tempat yang sama dengan tempat keluarnya kotoran.

Bukankah Allah mengatakan pada kita bahwa kita diciptakan dari air mani yang hina:

“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” [Al Mursalaat 20]

Saat hidup pun kita membawa beberapa kilogram kotoran di badan kita. Jadi bagaimana mungkin kita masih bersikap sombong?

‘Ujub (Kagum akan diri sendiri)

Ini mirip dengan sombong. Kita merasa bangga atau kagum akan diri kita sendiri. Padahal seharusnya kita tahu bahwa semua nikmat yang kita dapat itu berasal dari Allah.

Jika kita mendapat keberhasilan atau pujian dari orang, janganlah ‘ujub. Sebaliknya ucapkan “Alhamdulillah” karena segala puji itu hanya untuk Allah.

Iri dan Dengki

Allah melarang kita iri pada yang lain karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah jadi ketentuan Allah.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32]

Iri hanya boleh dalam 2 hal. Yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu.

Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari) [HR Bukhari]

Jika kita mengagumi milik orang lain, agar terhindar dari iri hendaknya mendoakan agar yang bersangkutan dilimpahi berkah.

Apabila seorang melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya (dikaguminya) maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah. Sesungguhnya pengaruh iri adalah benar. (HR. Abu Ya’la)

Dengki lebih parah dari iri. Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang. Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh karena itu Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki:

“Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” [Al Falaq 5]

Kedengkian bisa menghancurkan pahala-pahala kita.

Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu. (HR. Abu Dawud)

http://syiarislam.wordpress.com/2009/10/09/penyakit-hati-sombong-iri-dan-dengki-dan-cara-mengobatinya/

Penyakit Riya (Pamer) Adalah Syirik Kecil

Riya adalah berbuat kebaikan/ibadah dengan maksud pamer kepada manusia agar orang mengira dan memujinya sebagai orang yang baik atau gemar beribadah seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya.

Ciri-ciri riya:

Orang yang riya berciri tiga, yakni apabila di hadapan orang dia giat tapi bila sendirian dia malas, dan selalu ingin mendapat pujian dalam segala urusan. Sedangkan orang munafik ada tiga tanda yakni apabila berbicara bohong, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. (HR. Ibnu Babawih).

Orang yang riya’, maka amal perbuatannya sia-sia belaka.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia” [QS. Al-Baqarah: 264]

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” [Al Maa’uun 4-6]

Riya membuat amal sia-sia sebagaimana syirik. (HR. Ar-Rabii’)

Sesungguhnya riya adalah syirik yang kecil. (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Allah mengancam orang yang riya ke dalam neraka dan menyebutnya sebagai teman setan:

“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riyakepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” [An Nisaa' 38]

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” [An Nisaa' 142]

Imam Al Ghazali mengumpamakan orang yang riya itu sebagai orang yang malas ketika dia hanya berdua saja dengan rajanya. Namun ketika ada budak sang raja hadir, baru dia bekerja dan berbuat baik untuk mendapat pujian dari budak-budak tersebut. Bukankah orang itu akan mendapat marah dari rajanya?

Nah orang yang riya juga begitu. Ketika hanya berdua dengan Allah Sang Raja Segala Raja, dia malas dan enggan beribadah. Tapi ketika ada manusia yang tak lebih dari hamba/budak Allah, maka dia jadi rajin shalat, bersedekah, dan sebagainya untuk mendapat pujian para budak. Adakah hal itu tidak menggelikan?

Agar terhindar dari riya, kita harus meniatkan segala amal kita untuk Allah ta’ala (Lillahi ta’ala).

Selain riya yang beribadah kepada Allah hanya pamer kepada manusia, sikap riya/menjilat pada atasan pun tidak terpuji. Orang-orang seperti ini biasanya ke atas menjilat, namun ke bawah menginjak. Orang-orang seperti ini selain dibenci bawahannya juga dibenci Allah.

http://syiarislam.wordpress.com/2011/05/25/penyakit-riya-pamer-adalah-syirik-kecil/

Tergesa-gesa Adalah Perbuatan Setan

Alon alon asal kelakon, kata orang Jawa dulu. Biar lambat asal selamat.

“Tergesa-gesa adalah termasuk perbuatan setan,” begitu kata Nabi (HR Tirmidzi)

Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan. (HR. Asysyihaab)

Sering orang naik motor atau mobil dengan ngebut. Padahal bedanya paling cuma 15 menit lebih cepat dibanding dengan mengemudi biasa sambil hati-hati. Namun ngebut tersebut bukannya mempercepat, tapi justru bisa menimbulkan masalah. Bisa tabrakan, bisa mati, atau paling tidak lecet.

Saat saya jalan pagi, ada pengendara sepeda motor bukannya memperlambat motornya karena berada di pertigaan, tapi justru menggas dan mempercepat jalan motornya. Tidak sampai 50 meter, ternyata di balik pertigaan muncul mobil kijang. Motor itu pun menabrak mobil tersebut.

 Bukannya sampai di tujuan lebih cepat, pengemudi motor tersebut dimaki-maki pengendara mobil yang ditabraknya. Pengemudi mobil mengambil kunci motornya. Bukannya lebih cepat sampai (paling cuma 15 menit lebih cepat), paling tidak pengendara motor tersebut justru kehilangan waktu beberapa jam hingga hari untuk mendapatkan kunci motornya kembali.

Ada pula pengemudi motor yang mengebut. Mobil yang mau berbelok ke kanan untuk masuk ke rumahnya, justru berusaha disusul lewat sebelah kanan sehingga memakan jalur lalu lintas di sebelahnya. Akibatnya motor pun menabrak mobil tersebut sehingga mobil tersebut penyok berat di sisi pintu sopirnya.

Seorang wanita yang membonceng di motor tersebut terjatuh ke aspal dan berteriak-teriak kesakitan tidak bisa berdiri atau berjalan. Terpaksa dimasukkan ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

Itulah beberapa contoh akibat tergesa-gesa atau ngebut. Bukannya cepat, malah celaka dan boros waktu. Jangan tergesa-gesa. Jangan ngebut. Biasa saja dan tenang.

Dalam beribadah juga begitu. Tidak boleh tergesa-gesa atau terburu-buru. Karena itu tidak akan membuat kita jadi khusyuk. Tetaplah tenang meski sudah iqomah.

Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Apabila kamu mendengar iqamah, maka pergilah shalat (berjamaah). Hendaklah kamu bersikap tenang dan tenteram, jangan tergesa-gesa. Apa yang kamu dapati, shalatlah kamu bersama mereka; dan apa yang terlewatkan (ketinggalan), maka sempurnakanlah.” [HR Bukhari]

Shalat hendaknya dilakukan dengan tenang agar khusyuk. Ada tuma’ninah atau berhenti sebentar di tiap gerakan. Tidak tergesa-gesa.

Abu Qatadah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila shalat didirikan, maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku (dan hendaklah kamu bersikap tenang).’” [HR Bukhari]

Bahkan saat makan pun tidak boleh terburu-buru:

Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila telah dihidangkan makan malam, maka mulailah sebelum kamu shalat magrib. Janganlah kamu tergesa-gesa terhadap makan malammu.” [HR Bukhari]

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila makan malam telah dihidangkan dan iqamah untuk shalat telah diucapkan, maka dahulukanlah makan malam dan jangan terburu-buru hingga kamu selesai makan.” (Dan dalam satu riwayat: hingga ia menyelesaikan keperluannya). [HR Bukhari]

Jika terburu-buru, selain bisa keselek juga makanan tidak tercerna dengan baik dan bisa menimbulkan berbagai macam penyakit bagi tubuh kita.

Dalam membaca Al Qur’an juga tidak boleh tergesa-gesa.

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” [Thaahaa 114]

Manusia bersifat tergesa-gesa:

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” [Al Anbiyaa' 37]

Jika terburu-buru, sering kita zhalim kepada orang lain misalnya menyerobot antrian bahkan menabrak orang lain hingga tewas. Lampu Kuning yang harusnya merupakan tanda/isyarat bahaya agar berhenti, justru diterobos. Laju kendaraan justru dipercepat. Itu semua tak lepas dari pengaruh setan dalam diri kita.

Semoga kita semua bisa terhindar dari sifat tergesa-gesa dan bisa jadi orang yang tenang dan sabar. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar.

http://syiarislam.wordpress.com/2011/05/25/tergesa-gesa-adalah-perbuatan-setan/