Pages

Showing posts with label Sekitar Kita. Show all posts
Showing posts with label Sekitar Kita. Show all posts

Wednesday, April 3, 2013

Kisah Seorang Yahudi yang Mengislamkan Jutaan Orang





Disuatu tempat di Prancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim. Ia adalah orangtua yang menjual makanan di sebuah toko makanan. Toko tersebut terletak di sebuah apartemen di mana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama “Jad” berumur 7 tahun.

Jad, si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat di mana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah. Setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya.

Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya. Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya.

“Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu”, ujar Jad sebagai tanda persetujun.

Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang seorang Muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi

Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad.

Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.

14 Tahun Berlalu

Jad kini telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun.

Alkisah, Ibrahim akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya di mana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya. Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.

Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak. Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim-lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya,  dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.

Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.

Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi.

Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.

Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, “Buku apa ini?”

Ia menjawab, “Ini adalah Al-Qur’an, kitab sucinya orang Islam!”

Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub,

Jad lalu kembali bertanya, “Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?”

Temannya menjawab, “Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!”

Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!

Islamkan 6 juta orang

Kini Jad sudah menjadi seorang Muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur’ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur’an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur’an.

Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur’an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.

Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua Afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat. Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.

Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang di antaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zulu, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.

Akhir Hayat Jadullah

Jadullah Al-Qur’ani, seorang Muslim sejati, da’i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah.

Kisah pun belum selesai

Ibu Jadullah Al-Qur’ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun.

Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi. Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar.

Yang menjadi pertanyaannya, “Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?”

Jadullah Al-Qur’ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: “Hai orang kafir!” atau “Hai Yahudi!” bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: “Masuklah agama Islam!”

Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua Muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur’an.

Kemudian dari kesaksian Dr. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zolo. Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur’ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani.

Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur’ani. Dan Jadullah Al-Qur’ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.

Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur’ani, kisah ini merupakan kisah nyata yang penulis dapatkan kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang dijuluki sebagai “Syaikh Kaum Revolusioner Mesir”. Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kairo pada hari Jumat, 16 Desember 2011 silam.

Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa-masa penuh fitnah seperti ini. Di saat banyak orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur’ani. Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mengklaim sesat, menyatakan bid’ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim.

Dulu da’i-da’i kita telah berjuang mati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun kenapa sekarang orang yang sudah Islam malah justru dikafir-kafirkan dan dituduh syirik? Bukankah kita hanya diwajibkan menghukumi sesuatu dari yang tampak saja? Sedangkan masalah batin biarkan Allah yang menghukumi nanti. Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membelah dada setiap manusia agar mengetahui kadar iman yang dimiliki setiap orang.

Bayangkan, Fir’aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, namun saat dakwah dengan orang seperti ia pun harus tetap dengan kata-kata yang lemah lembut, tanpa menyebut dia Kafir Laknatullah! Lalu apakah kita yang hidup di dunia sekarang ini ada yang lebih Islam dari Nabi Musa dan Nabi Harun? Atau adakah orang yang saat ini lebih kafir dari Fir’aun, di mana Al-Qur’an pun merekam kekafirannya hingga kini?

Lantas alasan apa bagi kita untuk tidak menggunakan dahwah dengan metode Al-Qur’an? Yaitu dengan Hikmah, Nasehat yang baik, dan Diskusi menggunakan argumen yang kuat namun tetap sopan dan santun?

Maka dalam dakwah yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita agar mudah menyampaikan kebenaran Islam ini.

Oleh karenanya, jika sekarang kita dapati ada orang yang kafir, bisa jadi di akhir hayatnya Allah akan memberi hidayah kepadanya sehingga ia masuk Islam.

Bukankah Umar bin Khattab dulu juga pernah memusuhi Rasulullah? Namun Allah berkehendak lain, sehingga Umar pun mendapat hidayah dan akhirnya memeluk Islam. Lalu jika sekarang ada orang muslim, bisa jadi di akhir hayatnya Allah mencabut hidayah darinya sehingga ia mati dalam keadaan kafir.

Karena sesungguhnya dosa pertama yang dilakukan iblis adalah sombong dan angkuh serta merasa diri sendiri paling suci sehingga tak mau menerima kebenaran Allah dengan sujud hormat kepada nabi Adam. Oleh karena itu, bisa jadi Allah mencabut hidayah dari seorang muslim yang tinggi hati lalu memberikannya kepada seorang kafir yang rendah hati. Segalanya tiada yang mustahil bagi Allah.


Sumber: http://hajingfai.blogspot.com/2012/07/kisah-seorang-yahudi-yang-mengislamkan.html#ixzz2PSdDIIow

Wednesday, March 20, 2013

Emakku Pahlawan




Sebagian besar orang mengetahui bahwa emak itu panggilan untuk seorang ibu di beberapa bahasa daerah, termasuk daerahku, sunda. Tapi emak yang saya sedang tulis sekarang ini bukan untuk membahas tentang ibu saya, melainkan nenek saya. 

Beliau sosok yang sangat berarti bagi saya dan seluruh keluarga besar saya. Beliau sangat dekat dengan cucu-cucunya, mungkin itu juga yang menyebabkan kami para cucunya juga memanggilnya dengan sebutan emak, bukan nenek atau "nini" dalam bahasa sunda.

Banyak sekali yang emak ajarkan pada kami saat belau hidup. Salah satunya yaitu nilai 'berbagi". Emak mengajarkan pada kami sedari kecil tentang pentingnya berbagi pada saudara. Jika salah seorang dari kami mempunyai makanan, kami membaginya agar sepupu-sepupu kami juga ikut merasakan makanan itu. Hal ini benar-benar tertanam di dalam benak kami, hingga sekarang kami telah dewasa.

Orang lain yang baru tahu keluarga besar kami mungkin akan agak terheran-heran, bagaimana dekatnya kami. Bahkan ada yang mengira kami ini bukan saudara sepupu, tetapi saudara kandung. Jika ada salah satu dari kami memiliki masalah, kami berembug untuk mendapatkan solusinya.

Alhamdulillah kami sangat bersyukur Allah menitipkan kami pada satu keluarga besar yang memiliki sosok emak yang sangat menginspirasi, mengajarkan nilai-nilai kehidupan, yang manfaatnya sangat kami rasakan walaupun beliau sudah tiada. Kami hanya bisa berdoa semoga nilai-nilai yang emak ajarkan pada kami, menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus. Aamiin.

Friday, June 1, 2012

Mengapa Ummat Islam Bisa Dikalahkan Israel?

Roket Hizbullah
Jumlah ummat Islam ada 1,2 milyar. Sementara Yahudi hanya sekitar 20 juta di mana 7 juta tinggal di Israel. Sisanya 6 juta tinggal di AS, 700 ribu di Perancis dan Rusia, 300 ribu di Inggris, Asia, Amerika latin, dan sebagainya. Bahkan di Indonesia juga ada.


Mengapa ummat Islam yang jumlahnya jauh lebih besar bisa dikalahkan Israel dengan mudah? Mengapa Ummat Islam meski saudara Muslimnya di Palestina dibantai Israel tidak berdaya sama sekali untuk membantu sehingga 1.033 warga Palestina (sebagian besar wanita dan anak-anak) tewas dan 4.850 luka parah? Jumlah korban terus bertambah hingga sekarang (saat ini hari ke 20). Bukankah kata Nabi Muhammad SAW ummat Islam itu seperti satu tubuh? Jika yang lain sakit, maka yang lain akan merasakan sakit juga? Apakah ke-Islaman kita sudah sangat tipis?


Ini tak lepas dari berbagai faktor. Yang utama adalah karena kelemahan ummat Islam sendiri.


Ummat Islam Tidak Bersatu


Pertama ummat Islam tidak bersatu. Tapi bercerai-berai. Padahal dalam surat Ali ‘Imran ayat 103 Allah melarang ummat Islam bercerai-berai. Saat ini ummat Islam di seluruh dunia terkotak-kotak dalam banyak negara yang tidak jarang satu sama lain saling bermusuhan bahkan perang seperti Iraq, Kuwait, Arab Saudi, Iran, dan sebagainya.


Padahal ketika ummat Islam bersatu, ummat Islam mampu mengalahkan musuhnya dengan mudah. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ummat Islam mampu menghalau kaum Yahudi serta menundukkan kerajaan Romawi dan Persia. Pada zaman Sultan Salahuddin Al ‘Ayubi, ummat Islam mampu mengalahkan negara-negara Eropa yang bersatu dalam perang merebut Yerusalem.


Sebaliknya, kaum Yahudi yang mengembara di berbagai negara seperti Eropa, Amerika, Asia, dan Australia lewat Sistem Ekonomi Neoliberalisme/Kapitalisme melalui Pasar Modal, Pasar Uang, dan Pasar Komoditas akhirnya menguasai perekonomian banyak negara di seluruh dunia. Bahkan 90% sumber daya alam Indonesia seperti minyak, gas, emas, dan sebagainya dikuasai perusahaan-perusahaan kafir yang sebagian besar berasal dari AS. Organisasi PENA memperkirakan perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh Rp 2.000 trilyun/tahun dari kekayaan alam Indonesia.


Tak ada seorang pun yang bisa jadi presiden AS tanpa dukungan dana kampanye dari kelompok Jutawan Yahudi AS dan juga media massa yang dikuasai Yahudi.


Dengan pimpinan AS yang pemerintahannya dikuasai kelompok Yahudi inilah kaum Yahudi mengerahkan segala dana, SDM, dan militer dari seluruh dunia untuk mendukung Israel. Sebagai contoh, negara-negara Islam seperti Mesir, Turki, dan Yordania selain berasaskan sekuler ciptaan Yahudi juga membina hubungan diplomatik dengan Israel. Presiden Mesir, Hosni Mobarak, bahkan menutup perbatasan Gaza-Mesir sehingga rakyat Palestina tidak bisa melarikan diri ke sana. Makanan dan obat-obatan pun tidak bisa masuk hingga sebagian rakyat Gaza ada yang sampai memakan rumput karena lapar. Presiden Mesir, Hosni Mobarak yang merupakan boneka Yahudi sanggup membuat bangsa Mesir jadi tidak punya rasa persaudaraan Islam atau pun Arab dengan Palestina yang Arab Muslim.


Oleh karena itu ummat Islam harus bersatu. Segala macam masalah furu’iyah seperti ”Qunut” yang membuat ummat Islam saling timpuk dan hujat satu sama lain harus dihilangkan. Sebab jangankan berdebat tentang hadits, berdebat tentang ayat Al Qur’an yang mutasyabihat (tidak jelas) pun Allah melarangnya (Ali ’Imran:7). Ummat Islam harus bersatu dan tidak boleh terpengaruh oleh kalangan khawarij atau pun ashobiyah yang begitu gampang mengkafirkan Muslim lainnya dan memecah-belah persatuan Islam.


Ummat Islam Dikuasai Kelompok Kafir


Ummat Islam juga tidak pantas tunduk kepada PBB yang dikuasai kelompok kafir yang tidak peduli sama sekali pada nasib ummat Islam di Iraq, Afghanistan, dan Palestina. Anggota Tetap DK (Dewan Keamanan) PBB adalah AS, Inggris, Perancis, Rusia, dan Cina. Semuanya kafir di mana AS, Inggris, dan Perancis dikuasai betul oleh kaum Yahudi. Oleh karena itu bodoh sekali jika ummat Islam mempercayakan nasibnya pada orang-orang kafir yang justru memerangi Islam. Allah melarang ummat Islam mengangkat orang-orang kafir jadi pemimpin atau pelindung (Al Maa’idah:57).


Sebaliknya Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus diperkuat. Harus ada DK (Dewan Keamanan) OKI yang mampu mengirim pasukan untuk membela ummat Islam yang tertindas. Para raja mau pun presiden-presiden negara Islam harus memilih satu pemimpin untuk jadi pemimpin OKI yang akan melindungi mereka semua. Nanti pemimpin OKI inilah yang mengatur dan melindungi negara-negara Islam sehingga perpecahan antara negara Islam bisa dihilangkan.


Boikot Dollar dan Produk AS dan Israel


Mantan PM Malaysia, Mahathir Mohammad, menghimbau agar negara-negara Islam memboikot dollar dan produk AS. Indonesia untuk mempertahankan devisa sekitar US$ 54 milyar harus menjual seluruh kekayaan alamnya, menjual BUMN-BUMN yang bernilai ribuan trilyun rupiah, mengundang investor asing (baca: Investor Kafir), dan juga berhutang kepada IMF, World Bank, ADB, dan sebagainya.


Sebaliknya, AS dengan mudah dapat membuat dollar. AS tinggal menekan tombol ”Print” untuk mencetak dollar sebanyak yang mereka mau. Padahal dollar AS itu sebenarnya berasal dari kertas yang nyaris tidak ada harganya. Negara-negara Eropa cukup cerdas untuk bisa dipermainkan dollar AS. Oleh karena itu mereka (kecuali Inggris yang Pondsterlingnya nyaris sekuat dollar) membentuk mata uang Euro sehingga perdagangan antar negara Eropa tidak perlu memakai dollar.


Jika tidak pakai dollar, Indonesia impor barang pakai apa? Indonesia bisa membayarnya dengan mata uang negara Importir seperti Yen Jepang atau Yuan China. Sebaliknya China dan Jepang jika beli barang Indonesia harus membayar dengan rupiah. Atau Indonesia bisa mematok rupiah dengan Dinar Emas atau Dirham Perak. Misalnya Rp 100 ribu saja dengan 0,1 Dinar (1 dinar = 4,25 gram emas 22 karat).


Bank-bank Syari’ah atau Bank-bank Islam harus mensosialisasikan Dinar emas dan Dirham perak dengan membuka counter jual-beli dinar/dirham sehingga tidak perlu dollar AS lagi. Jika transaksi valas nilainya sekitar Rp 7.000 trilyun/tahun dan memberi keuntungan sekitar Rp 500 trilyun/tahun bagi money changer atau pun bank yang menyediakan transaksi valas, maka jual-beli dinar-rupiah bisa memberikan keuntungan serupa.


Produk-produk AS yang mendukung Yahudi seperti KFC, McDonald, Sara Lee, Coca Cola, dan sebagainya harus diboikot. Bagi orang-orang yang bekerja di perusahaan tersebut, janganlah takut miskin. Allah mengatakan hal itu dalam Surat At Taubah ayat 28 ketika orang-orang kafir dan perusahaan-perusahaan kafir dilarang memasuki kota suci Mekkah karena banyak orang Islam yang bekerja di perusahaan tersebut. Tapi ternyata begitu perusahaan orang-orang kafir menghilang, perusahaan-perusahaan orang Islam bisa menggantikannya. Ummat Islam justru lebih makmur karena mereka bukan cuma jadi pekerja atau kuli dengan upah UMR saja, tapi juga jadi pemilik perusahaan dengan penghasilan tak terbatas.


Jangan hanya produk-produk AS yang diboikot. Para pejabat, wakil rakyat, ulama, ekonom mau pun jurnalis Muslim harus berusaha agar perusahaan-perusahaan kafir yang menguasai kekayaan alam Indonesia dan menyumbang total Rp 2.000 trilyun/tahun (menurut organisasi PENA) ke negara-negara kafir tersebut bisa dinasionalisasi sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia dan ummat Islam. Ummat Islam harus bisa mengikuti Venezuela yang telah menasionalisasi perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di negaranya. Tentu saja hal ini akan dapat tentangan dari ekonom ”Mafia Berkeley” yang jadi kaki tangan Yahudi AS. Tapi ummat Islam harus bisa mengalahkan mereka.


Indonesia ”menyumbang” sekitar Rp 2.000 trilyun/tahun. Begitu pula negara-negara Islam lainnya yang kekayaan alamnya dikuras oleh AS. Uang itu akhirnya dipakai untuk membuat berbagai senjata canggih yang dipakai untuk menyerang dan menjajah Islam seperti di Iraq, Afghanistan, dan juga Palestina. AS setiap tahun menyumbang Israel sebesar US$ 3,2 milyar. Sebagian besar berasal dari negara-negara Islam seperti Indonesia. Ummat Islam yang seharusnya makmur pun jadi miskin seperti Indonesia. Indonesia tanahnya kaya, tapi rakyatnya miskin karena pemimpinnya kurang cerdas sehingga kekayaan alamnya justru dikeruk oleh pihak asing/kafir.


Ummat Islam juga harus berhenti merokok karena selain berbahaya juga boleh dikata semua perusahaan rokok besar itu dikuasai orang kafir. Bahkan ada pabrik rokok Indonesia yang dikuasai perusahaan AS. Jika seorang menghabiskan Rp 300 ribu per bulan untuk rokok, maka dalam setahun dia menyumbang Rp 3,6 juta kepada orang kafir. Jika ada 100 juta Muslim yang merokok, maka ada Rp 360 trilyun uang yang disumbang ummat Islam kepada orang-orang kafir setiap tahun. Padahal mayoritas ummat Islam miskin dan butuh pertolongan!


Kuasai Persenjataan Canggih


Para Mujahidin Indonesia yang akan berangkat ke Palestina juga harus cerdas. Memang bela diri dengan tangan kosong mau pun dengan pedang itu penting. Tapi itu saja tidak cukup! Untuk melawan jet-jet dan helikopter tempur Israel tidak bisa dengan bela diri atau pedang saja. Tapi harus memakai senapan sniper atau pun roket yang bisa mencapai pesawat tempur Israel dan menghancurkannya. Ummat Islam harus menggunakan senjata yang bisa menggentarkan musuh sebagaimana dinyatakan surat Al Anfaal ayat 60.


Pembuatan roket-roket yang bisa menghancurkan tank-tank dan pesawat Israel macam yang dipakai gerilyawan Hizbullah di Lebanon harus dikuasai sehingga tentara Israel bisa dipukul mundur seperti di Lebanon pada tahun 2006.


Embargo Minyak terhadap AS dan Israel


Satu lagi yang harus kita ingat. Kenapa Tank-tank Israel bisa berjalan, pesawat-pesawat tempur Israel bisa terbang, dan roket-roket Israel bisa meluncur? Itu karena minyak dari Arab Saudi. Tanpa minyak, tank, pesawat tempur, dan roket Israel takkan bisa berjalan. Israel tidak punya minyak. AS justru kekurangan minyak. Ada pun Arab Saudi adalah eksportir minyak terbesar di dunia. Tanpa minyak Arab Saudi, Israel tak akan mampu membantai ummat Islam di Palestina dan Lebanon. Oleh karena itu Iran mengusulkan embargo minyak terhadap Israel dan AS untuk mengatasi serangan Israel di Gaza.


Tahun 1970-an negara-negara Arab bisa membuat AS dan Israel mundur dengan embargo minyak. Namun saat ini pemerintah Arab Saudi mengundang tentara AS untuk menghadapi pemerintah Iraq yang dulu dipimpin Saddam Hussein. Dengan matinya Saddam, harusnya raja Arab berani meminta tentara AS mundur dari tanah Arab.


Semoga dengan persatuan dan kemandirian, ummat Islam bisa kembali berjaya. Mohon sampaikan informasi ini kepada muslim lainnya.

http://syiarislam.wordpress.com/2009/01/15/mengapa-ummat-islam-bisa-dikalahkan-israel/

Yahudi Kuasai Ekonomi Indonesia?



“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [At Taubah 28]

Saat itu perekonomian kota Mekkah dipegang oleh orang2 kafir. Namun Allah memerintahkan Nabi agar mengusir orang2 kafir dari Mekkah.. Ummat Islam takut bahwa perekonomian terganggu dan mereka jadi miskin. Karena itu turun ayat tsb.

Saat ekonomi dikuasai orang kafir, mereka justru memiskinkan kita. Segala kekayaan alam kita dirampas sehingga meski negeri kita kaya, tapi rakyat kita miskin. Inginkah kita terus seperti itu?

Arab Saudi, Iran, Qatar, Kuwait, Malaysia yang lebih independen dari Indonesia kenyataannya lebih makmur daripada Indonesia.

Sebetulnya dominasi Yahudi AS di Indonesia sudah sangat kental.

Cuma umat Islam saja banyak yang tidak sadar atau tidak tahu.

Dari link2 di bawah, ternyata perusahaan2 migas asing seperti Exxon Mobil, Chevron, Conoco, Amoco, BP, Arco, dsb merupakan pecahan dari Standard Oil yang dimiliki oleh Rockefeller. Rockefeller ini ditengarai sebagai Yahudi dan pemikirannya sejalan dengan Zionis. Perusahaan2 “Yahudi AS” (jika berita link di bawah benar) menguasai 90% migas di Indonesia.

Freeport di mana mantan Menlu AS Henry Kissinger menguras emas, perak, dan tembaga Papua mendapatkan puluhan trilyun (dan mungkin sebetulnya ratusan trilyun) per tahun dari kekayaan alam Indonesia. Hebatnya sekali, untuk mendapat 10% saham perusahaan tsb Indonesia harus bayar mahal. Padahal mereka mendapatkan tanah milyaran meter per segi berikut emas, tembaga, perak secara “Gratis” dari Indonesia.

Negara-negara lain seperti Malaysia, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Venezuela, Iran, Norwegia, dsb cukup waras untuk menguasai kekayaan alam mereka lewat BUMNnya sehingga rakyat mereka makmur sejahtera.

Pimpinan pertama IMF Camille Gutt, seorang Yahudi. Begitu pula dengan pimpinan IMF sekarang (2010), Dominique Strauss-Kahn.
Pimpinan pertama Bank Dunia Eugene Meyer dan juga kebanyakan pimpinan WB serta yang sekarang (Robert P Zoellick) adalah Yahudi.
Dengan menguasai hak mencetak kertas jadi uang, mereka paksa dunia menjual BUMN2 dan kekayaan alam yang dikelola untuk mereka kuasai melalui program PRIVATISASI. Hendaknya ummat Islam serta tokoh-tokoh Islam menyadari hal ini. Jika tidak, kekayaan alam dan ekonomi ummat Islam berpindah dari ummat Islam ke tangan Zionis Yahudi.

Perusahaan rokok Phillips Morris (pemegang rokok Marlboro dan Sampoerna) juga mengeruk ratusan trilyun rupiah dari rakyat Indonesia.


Freeport Mc Moran juga ternyata satu perusahaan Yahudi yang mengeruk emas, perak, dan tembaga di Papua. Henry Kissinger, mantan Menlu AS, yang merupakan salah satu Direkturnya. Diperkirakan dari gunung Grassberg saja, Freeport bisa mendapatkan US$ 50 milyar (Rp 500 trilyun!). Perusahaan pertambangan lainnya adalah Rio Tinto, BHP Billiton, dsb.

Dari link di bawah saya lihat ummat Kristen ada yang menyadari bahwa Yahudi dengan kekuatan bisnisnya menghancurkan perusahaan2 Kristen.

Saya pelajari sekilas Presiden Bank Dunia, ternyata (apakah kebetulan?) mayoritas Yahudi semua dari Presiden pertama Eugene Meyer, hingga presiden2 terakhir seperti: Lewis T. Preston, James Wolfensohn, Paul Wolfowitz, Robert Zoellick.

Ada pun John J McCloy dan Robert McNamara meski bukan Yahudi namun sangat dekat dengan Zionis Yahudi. Bahkan McNamara-lah yang menjerumuskan AS ke dalam perang Vietnam. Beberapa dari Presiden Bank Dunia tersebut terlibat aktif di bidang politik. Paul Wolfowitz sebagai contoh adalah zionis Yahudi ekstrim yang menjerumuskan AS ke dalam perang Iraq.


Krisis Moneter di tahun 1998 yang menyebabkan nilai rupiah jatuh dari Rp 2.400/1 US$ ke Rp 16.700/1 US$ hanya dalam beberapa bulan oleh spekulan valas Yahudi dengan George Soros menunjukkan pengaruh kuat kaum Yahudi di Indonesia. Bahkan saat ini George Soros bertemu dengan Wapres Boediono yang dulu menjabat sebagai Direktur BI di era Soeharto. Jatuhnya mata uang Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Korsel menunjukkan bahwa di negara tersebut juga dipengaruhi kekuatan Yahudi Soros cs. Perubahan kebijakan nilai tukar dari fixed rate (rupiah dipatok tetap terhadap dollar) menjadi floating rate menjadi peluang bagi Soros cs untuk berspekulasi dengan valas. Nilai rupiah jadi berubah-rubah setiap hari tergantung nilai yang diberikan oleh Soros cs.

Pasar Saham/Bursa Saham juga memungkinkan orang-orang Yahudi yang bergerak di bidang Sekuritas / investment manager untuk membeli saham-saham BUMN yang diprivatisasi.

http://syiarislam.wordpress.com/2010/02/10/yahudi-kuasai-ekonomi-indonesia/

Kartun Lucu tentang Yahudi dan Palestina



Meski kekejaman bangsa Yahudi terhadap bangsa Palestina tidak terkira, namun tidak banyak orang yang menyadarinya atau mengingatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Di bawah adalah kartun-kartun yang lucu tentang itu. Meski membuat kita tersenyum, mungkin bisa menyadarkan kepada kita apa yang tengah terjadi di sana.

Ini adalah sindiran tentang indoktrinasi yang ditanamkan oleh pihak Yahudi dan antek-anteknya terhadap para siswa sekolah di AS dan Eropa agar mereka sadar bahwa bangsa Yahudi adalah “korban” kekejaman monster seperti mereka.


“Apa yang dipelajari Joni di sekolah hari ini dan kemarin dan besok?” Buku-buku tentang Holocaust seperti “Diary of Anne Frank” dan sebagainya.

Oleh karena itu meski sekarang tentara Israel membantai rakyat Palestina, yang tertanam di memori rakyat AS dan Eropa adalah bangsa Yahudi itu adalah korban. Bukan teroris. Sementara bangsa Palestina/Arab yang dibantai justru mereka anggap teroris.

Coba lihat kekejian tentara Israel:


Hollywood dikuasai Yahudi. Paramount, Warner Bros, Walt Disney, dan sebagainya dipimpin oleh orang Yahudi. Tak heran jika homosexual, sex, pornografi dan kekerasan dipromosikan lewat film-film Hollywood. Kita bisa melihat adegan ciuman bahkan di film “anak-anak” seperti Donald Duck atau Tom and Jerry.

Orang Yahudi selalu digambarkan sebagai orang baik. Sementara orang-orang Arab digambarkan sebagai teroris. Lihat film “True Lies” yang dibintangi oleh actor Yahudi Arnold Schwarzenegger atau film-film Chuck Norris.

Di Kartun di atas digambarkan seorang anak yang ingin menyewa Video tentang pembantaian rakyat Palestina yang dijawab tidak ada oleh penjaganya. Tidak ada film-film tentang pembantaian rakyat Palestina di Hollywood.

Dengan menguasai media masa dunia seperti CNN, New York Times, Time, dan sebagainya, Yahudi bisa menciptakan image bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang damai. Sementara bangsa Palestina penuh dengan kekerasan/biadab.

Holocaust terbukti senjata ideology terhebat sehingga Israel dianggap sebagai “Negara Korban” dan kebal dari segala kritik meski mereka memiliki bom nuklir dan sering melakukan pembantaian.

Kampanye presiden AS didanai oleh para konglomerat Yahudi seperti keluarga Rostchilds dan Rockefeller yang menguasai minyak dan sektor keuangan. Imagenya pun dibentuk oleh media massa Yahudi. Tak heran jika para presiden AS akhirnya lebih berbakti kepada Lobby Yahudi ketimbang rakyat Amerika Serikat.

Di AS dan Eropa membantah Holocaust adalah tindak kriminal yang bisa dituntut hukuman penjara. Sebaliknya menghina-hina Islam seperti membuat kartun, film, dan sebagainya adalah kebebasan berpendapat yang dilindungi…

Apa yang dipelajari orang-orang Yahudi seperti Ariel Sharon dari Holocaust? Mereka justru meniru perilaku orang-orang NAZI yang menindas mereka. Mereka mempermalukan dan membantai rakyat Palestina.

http://syiarislam.wordpress.com/2010/01/27/kartun-lucu-tentang-yahudi-dan-palestina/

Korupsi dan Kemaksiatan Merajalela, Bencana Alam: Cobaan atau Perbuatan Tangan Kita Sendiri?

Berbagai bencana/musibah/bahaya menerpa Indonesia. Mulai dari tsunami, banjir, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, hingga perang antar suku atau tawuran antar anak sekolah/preman/penduduk.

Meski 80% rakyat Indonesia Muslim, namun banyak kemungkaran terjadi. Korupsi merajalela. Begitu pula pornografi. Dekat kedatangan bintang porno Miyabi, terjadi gempa Padang. Dekat kedatangan bintang porno Tera Patrick, terjadi letusan gunung Merapi dan Tsunami di kepulauan Mentawai. Minuman keras dan narkoba merajalela. Begitu pula dengan tawuran antar pelajar/penduduk.  Aliran sesat bermunculan. Selain Ahmadiyah dan Liberal yang tak kunjung selesai, banyak pula orang yang mengaku sebagai Nabi dari Tukang Cukur hingga Mantan Pelatih Badminton. Kejahatan seperti penculikan anak dan pembunuhan merajalela. Dengan banyaknya kemaksiatan di depan kita yang nyaris berjalan tanpa pencegahan dari kita, bagaimana mungkin Allah bisa ridho kepada kita?
Umumnya orang di Indonesia menganggap itu sekedar ujian dari Allah sebagaimana ayat di bawah:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” [Al Baqarah 155-156]
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Ath Thagaabun 11]
Kita harus menerima cobaan itu dengan sabar dan mengucapkan kalimat istirja’ bahwa kita semua akan kembali kepada Allah. Insya Allah korban yang semasa hidupnya rajin beribadah kepada Allah, Saleh, dan sabar akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagai contoh Mbah Maridjan yang tewas karena awan panas gunung Merapi, dikabarkan masih shalat dan tewas dalam keadaan sujud. Insya Allah beliau meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah.
Meski demikian, dari berbagai ayat-ayat Allah di bawah, Allah menyatakan bahwa segala bencana/musibah/bahaya yang menimpa kita itu adalah karena perbuatan tangan kita sendiri. Mungkin ini menyakitkan bagi kita terutama yang terkena bencana. Tapi coba kita kaji firman Allah/ayat-ayat berikut:
“Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya” [Al Anfaal 51]
“Azab yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” [Ali ‘Imran 182]
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [Asy Syuura 30]
Ayat-ayat di atas cukup jelas. Bahwa segala musibah/bencana yang menimpa kita tak lepas dari perbuatan kita sendiri.
Sebagai contoh, banjir Jakarta. Kita bisa saja menganggap itu cobaan dari Allah dan berhenti berpikir sampai di situ. Tapi jika kita tak mau belajar, bencana banjir akan terus berulang.
Banjir di Jakarta tak lepas dari ulah manusia. Berbagai rawa yang merupakan tempat lari dan meresapnya genangan air hujan atau dari hulu seperti Rawa Badak, Rawa Mangun, Rawa Sari, dan sebagainya dirubah manusia jadi bangunan dan jalan. Bagi yang biasa melewati jalan Tol Sediyatmo Cengkareng tahun 1980-an tentu masih melihat banyak hamparan rawa yang luas di kiri kanan jalan sepanjang puluhan kilometer. Namun sekarang 95% sudah berubah jadi pabrik, perumahan, dan jalan.
Jadi begitu hujan beberapa jam saja, Jakarta langsung tergenang banjir karena air tidak bisa meresap ke tanah atau terbuang ke rawa.
Tak jarang orang membangun rumah-rumah di pinggir kali. Bahkan ada pula yang menguruk kali untuk dijadikan rumah sehingga sebagai contoh Kali Ciliwung yang dulu lebarnya sekitar 65 meter lebih bisa susut tinggal 10 meter saja! Bahkan kurang. Sampah-sampah yang dibuang ke Kali Ciliwung mengakibatkan Kali yang dulunya dalam menjadi dangkal sehingga bisa terlihat dasar sungainya di musim kemarau. Hal ini mengakibatkan volume air hujan yang seharusnya muat ditampung Kali Ciliwung jadi tidak muat dan luber membanjiri perumahan warga.
Tak jarang petugas penyapu jalanan membuang sampah hasil sapuannya ke dalam gorong-gorong saluran air yang ada di pinggir jalan. Akibatnya begitu banjir, saluran tersumbat dan timbul genangan air banjir.
Mungkin tidak semua begitu. Tapi karena perbuatan segelintir orang, semua bisa terkena banjir. Allah memperingatkan kita akan adanya siksa/bencana yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja. Tapi juga bisa menimpa orang-orang yang beriman:
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” [Al Anfaal 25]
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan orang-orang tertentu, hingga masyarakat umum melihat kemunkaran di hadapan mereka sedang mereka mampu mengingkarinya tapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian, maka Allah akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu.” [HR. Ahmad dan Ath-Thabrani, dalam Al-Awsath].
Diriwayatkan, ada shahabat yang bertanya ;
“Wahai Rasulullah apakah kami akan binasa, sedang di tengah kami ada orang-orang saleh?’ Nabi menjawab, ‘Ya, jika keburukan telah meluas.” [HR. Muslim].
Coba kita lihat Indonesia. Meski 80% rakyat Indonesia Muslim, namun banyak kemungkaran terjadi. Korupsi merajalela. Begitu pula pornografi. Dekat kedatangan bintang porno Miyabi, terjadi gempa Padang. Dekat kedatangan bintang porno Tera Patrick, terjadi letusan gunung Merapi dan Tsunami di kepulauan Mentawai. Minuman keras dan narkoba merajalela. Begitu pula dengan tawuran antar pelajar/penduduk.  Dengan banyaknya kemaksiatan di depan kita yang nyaris berjalan tanpa pencegahan dari kita, bagaimana mungkin Allah bisa ridho kepada kita?

Belum lagi dengan ketidak-adilan hukum. Para koruptor trilyunan proses hukumnya begitu panjang dan bisa bebas. Sementara pencuri buah semangka, 2 buah pisang, atau pun 3 biji kopi hukumannya begitu cepat. Ada pula ulama yang ditangkap dengan tuduhan/stigma teroris. Padahal belum tentu dia teroris. Jika orang awam yang dizalimi saja doanya akan dikabulkan Allah tanpa tabir, apalagi jika ulama/ahli zikir yang dizalimi.

Para ahli mungkin berpendapat tsunami terjadi karena pergeseran lempeng bumi atau Gunung api meletus akibat magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Para ahli paling berhenti pada makhluk/ciptaan Allah. Pikiran mereka tidak sampai kepada penciptanya: Allah.
Bukankah Allah yang menciptakan lempeng bumi dan juga gunung berapi? Bukankah lempeng dan gunung berapi itu sejak dulu ada? Kenapa tidak meledak dari dulu, tahun kemarin, atau tahun sebelumnya?
Hendaknya kita sebagai orang yang beriman dan berpikir menganggap segala bencana yang terjadi merupakan teguran bagi kita untuk memperbaiki diri.
Bagi yang merasa beriman, jangan tersinggung. Sebab Nabi Nuh saja serta segelintir pengikutnya yang beriman, tetap kampung halamannya ditimpa azab oleh Allah karena mayoritas penduduknya durhaka terhadap Allah. Begitu pula dengan Nabi Luth dan pengikutnya saat mayoritas kaumnya durhaka.
Namun ada pelajaran di situ. Untuk menghadapi banjir, Nabi Nuh membangun perahu besar bersama pengikutnya. Saat banjir melanda, mereka naik perahu dan selamat. Cuma orang yang tak mau naik perahu yang celaka. Bisakah kita mengambil pelajaran dari sini? Adakah daerah yang saban 5-10 tahun kebanjiran menyediakan 1-2 perahu karet sehingga warganya bisa menyelamatkan diri dari banjir.
Ada pun Nabi Luth, saat akan terjadi bencana bersama pengikutnya melarikan diri dari kampung halamannya sehingga mereka selamat. Hanya orang yang tinggal saja yang kena azab berupa batu yang jatuh dari langit.
Nah 3 hari sebelum Gunung Merapi meletus, kera-kera sudah turun gunung. Esok harinya rusa-rusa menyusul. Jadi Allah sebetulnya sudah memperingatkan para penghuni gunung Merapi agar segera mengungsi sehingga mereka bisa selamat.
Sebetulnya Allah member Gunung api yang sewaktu-waktu bisa meletus agar manusia tidak menjadikan gunung tersebut sebagai perumahan/jalan. Jika gunung tersebut akhirnya padat oleh perumahan seperti Jakarta, maka air hujan tidak bisa menyerap di situ. Akibatnya mata air dan sungai-sungai akan kering sehingga warga Yogyakarta, Magelang, Klaten, Boyolali dan tempat lain yang dekat gunung Merapi akan kesulitan air tawar yang bersih.
Sebagai contoh mata air Umbul Wadon (di dasar Kali Kuning), yang menjadi andalan warga lereng Gunung Merapi dan Perusahaan Air Minum Daerah Kabupaten Sleman dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Wilayah Gunung Merapi merupakan sumber bagi tiga DAS (daerah aliran sungai), yakni DAS Progo di bagian barat; DAS Opak di bagian selatan dan DAS Bengawan Solo di sebelah timur. Keseluruhan, terdapat sekitar 27 sungai di seputar Gunung Merapi yang mengalir ke tiga DAS tersebut (Wikipedia). Belum lagi eko sistem lainnya seperti hutan serta binatang-binatang yang ada di sana.
Begitu pula dengan gunung-gunung lainnya. Allah meminta kita agar tidak merusak:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” [Al A’raaf 56]
“…janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”   [Al A’raaf 85
“Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." [Al Baqarah 11]
“…Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [Al Baqarah 60]
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” [Al Baqarah 205]
Jadi jika kita merusak alam atau sengaja tinggal di tempat yang berbahaya misalnya rawan banjir, rawan longsor, rawan tsunami, rawan letusan gunung berapi seandainya terjadi bencana, siapakah yang salah?
“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” [Ar Ruum 36]
Di antara kesalahan itu adalah korupsi yang merajalela. Sehingga Indonesia yang merupakan Negara yang kaya penuh dengan minyak, gas, emas, perak, tembaga, tanah yang subur, laut yang luas dan penuh ikan, akhirnya justru tidak memiliki kekayaan itu karena para pejabat yang korup menyerahkannya kepada pihak asing yang mayoritas non Muslim. Akhirnya mayoritas rakyat Indonesia miskin sehingga mereka tidak bisa membangun rumah yang bebas banjir atau tahan gempa.
Jika seluruh rakyat Indonesia mencoba menghentikan korupsi sehingga rakyat Indonesia makmur dan bisa membangun rumah yang kuat di tempat yang  aman, niscaya meski ada bencana, mayoritas rakyat Indonesia tetap selamat. Sebagai contoh Jepang yang negerinya jauh lebih rawan gempa, namun karena penduduknya makmur dan mampu membuat bangunan tahan gempa, dalam 20 tahun terakhir ini korban jiwa akibat gempa justru lebih sedikit daripada di Indonesia.
Oleh karena itu kita harus melakukan amar ma’ruf nahi munkar seperti melawan korupsi, pornografi, dan kejahatan lainnya. Dan hendaknya kita berdoa agar lepas dari hukuman Allah;
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [Al Baqarah 286]
Cobaan bukan Cuma bencana alam, tapi juga perang antar pelajar, preman, dan penduduk. Tawuran antar pelajar kerap kita saksikan di mana banyak yang berakhir dengan korban jiwa. Begitu pula perang antar preman/mafia dengan pedang dan pistol. Belum lagi konflik Ambon, Poso, Sampit, dan sebagainya:
“Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).” [Al An’aam 65]
Banyaknya bencana dan cobaan yang berulang-kali terjadi, sebagai contoh dalam minggu yang bersamaan saja ada di Minggu Terakhir Oktober 2010 ini selain Gunung Merapi yang meletus, Tsunami di Mentawai juga terjadi. Hendaknya kita (terutama penulis) bertobat dan mengambil pelajaran:
“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? [At Taubah 126]

Nabi Nuh dan Nabi Luth kampungnya dimusnahkan Allah karena meski ada Nabi, namun mayoritas rakyatnya maksiat kepada Allah.
Di Indonesia korupsi, perzinahan, pornografi, aliran sesat merajalela. Bahkan banyak yang mengaku sebagai Nabi. Bagaimana Allah ridho?

Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka karena perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksa Kami di malam hari waktu mereka sedang tidur? Atau  merasa aman dari siksa Kami waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (QS. Al-A’raf:96-98)
Bagi yang ingin menyumbang korban bencana, kirimlah ke Lembaga Amal Zakat terpercaya yang juga aktif berdakwah. Jadi mereka bukan cuma memberi materi, tapi juga bisa memantapkan Aqidah Islam dan juga memberikan Konseling Islami bagi korban yang menderita goncangan kejiwaan.

Ini perlu mengingat ada lembaga2 bantuan lain yang justru mencoba memurtadkan ummat Islam sebagaimana yang terjadi saat gempa di Padang. Silahkan lihat videonya di sini:
http://media-islam.or.id/mi-tv

Di antaranya Lembaga Penyalur Bantuan yang insya Allah amanah dan aktif berdakwah adalah:

Baitul Maal Hidayatullah

http://syiarislam.wordpress.com/2010/10/29/korupsi-dan-kemaksiatan-merajalela-bencana-alam-cobaan-atau-perbuatan-tangan-kita-sendiri/

3 Alternatif Solusi untuk Ahmadiyah

Ahmadiyah menganggap ada rasul setelah Nabi Muhammad SAW, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Ini bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits serta jumhur ‘ulama yang berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir dan tidak ada Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad SAW.


Dalilnya di antaranya:


“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…” [Al Ahzab:40]


Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).


Nabi Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku” [HR Abu Daud]


Dalil selengkapnya bisa dilihat di:

http://syiarislam.wordpress.com/2007/09/27/dalil-nabi-muhammad-nabi-terakhir


Oleh karena itu bukan hanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan perwakilan ormas Islam di Indonesia, tapi juga para ulama di seluruh dunia yang tergabung dalam Rabithah ‘Alam Islami (Liga Dunia Muslim) berfatwa Ahmadiyah itu sesat.


Kelompok Ahmadiyah, Islam Liberal, dan Non Muslim membela Ahmadiyah. Sementara ummat Islam lainnya (MUI, NU, Muhammadiyah, DDII) menganggap Ahmadiyah sesat. Melihat pro kontra tentang Ahmadiyah di Indonesia, menurut saya ada 3 alternatif solusi untuk itu:


1. Jika anggota Ahmadiyah ingin tetap di dalam Islam, maka dia harus mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir. Dia harus mengingkari bahwa siapa pun setelah Nabi Muhammad SAW, termasuk Mirza Ghulam Ahmad, bukanlah Nabi atau Rasul.

Ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, DDII, siap membantu anggota Ahmadiyah yang ingin kembali dalam ajaran Islam yang benar sesuai Al Qur’an dan Hadits.


2. Jika anggota Ahmadiyah tetap ingin mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai rasul, dia harus menyatakan diri keluar dari Islam. Membentuk agama baru yang ajarannya berbeda dengan Islam yaitu agama Ahmadiyah. Di Pakistan Ahmadiyah di anggap sebagai Non Muslim. Jika sudah jadi agama tersendiri, maka Ahmadiyah bukan lagi aliran sesat dalam Islam karena dalam Islam ada ajaran „Untukmu agamamu dan untukku agamaku“


3. Jika Ahmadiyah tetap ngotot mengaku sebagai Islam, tapi juga tetap berkeras menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi maka Ahmadiyah adalah aliran sesat. Ini masuk dalam penistaan agama dan harus ditindak oleh negara sesuai dengan pasal penistaan agama. Saat ini banyak orang-orang Ahmadiyah yang menyusup ke milis-milis Islam tapi menyiarkan paham bahwa ada Rasul setelah Nabi Muhammad SAW. Ini akhirnya menimbulkan perdebatan yang tidak ada akhir dan membuat ummat Islam jadi terganggu kegiatannya dalam mempelajari ajaran Islam yang benar sesuai Al Qur’an dan Hadits.


Menurut saya 3 alternatif tersebut cukup luwes dan memberi kebebasan bagi anggota Ahmadiyah untuk memilih mana yang mereka mau selama tidak melakukan penistaan terhadap agama Islam.


Kebebasan beragama dihargai dalam Islam selama dia beragama Islam dengan benar (bukan aliran sesat) atau beragama lain seperti Hindu, Budha, Kristen, dan sebagainya. Tapi jika dia mengaku Islam, maka dia harus menjalankan agama Islam dengan konsekwen. Bukan merusak atau menista ajaran Islam dengan aliran sesat.


Kebebasan beragama dihormati.

Tapi aliran sesat harus ditindak.

Salafi Wahabi Memecah Belah Islam dari Dalam?

Pertamakali saya menganggap gerakan Wahabi itu bagus. Niatnya untuk memurnikan ajaran Islam. Tapi lama-kelamaan kok jadi ekstrim membahas masalah-masalah furu’iyah dan khilafiyah dengan ujung-ujungnya membid’ahkan dan mengkafirkan sesama Muslim.

Sebelumnya saya jelaskan sebagaimana pendapat Ketua FPI, Habib Rizieq Syihab, selain Wahabi Takfiri dan Khawarij yang harus diluruskan, adapula Wahabi yang masih toleran dan bisa diajak dialog.

Di antara yang mereka ributkan dan vonis bid’ah adalah:

- Dzikir berjama’ah

- Dzikir dengan suara keras seperti shalat ‘Isya

- Isbal

- Maulid Nabi

- Pengajaran Sifat 20 yang disusun Imam Abu Hasan Al Asy’ari

dsb

Dengan vonis bid’ah, artinya yang dituduh itu sesat dan masuk neraka.





Ustad Arifin Ilham dengan Majelis Zikir Az Zikro mereka anggap bid’ah dan sesat:

Bagaimana mungkin dzikir bid’ah model Arifin Ilham bisa dikatakan sebagai majelis dzikir yang disebutkan di dalam nash-nash tersebut?

Sedangkan “majalis adz dzikir” yg dinisbahkan kepada model dan cara berdzikirnya Arifin Ilham lbh pantas dinamakan sebagai “majelis makr ” dan bukan majelis dzikr. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari kesesatan

http://blog.re.or.id/bid-ahnya-dzikir-jama-ah-ala-arifin-ilham-5-manhaj.htm

Bagaimana mungkin orang-orang yang berzikir dianggap sesat sementara orang-orang yang berjudi atau mabuk-mabukan di kafe bebas dari cacian kelompok tersebut?

Kelompok Salafi Wahabi ini dalam memahami Al Qur’an sepotong-sepotong tanpa memakai akal dan juga pendapat para Salaf seperti Imam Madzhab (Bukan Ibnu Taimiyyah yg lahir di tahun 728 H).

“Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. ” [Luqman 19]

“Ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” [Maryam 3]

Dari Ibnu ’Abbas Ra. berkata: “bahwasanya dzikir dengan suara keras setelah selesai shalat wajib adalah biasa pada masa Rasulullah SAW”. Kata Ibnu ’Abbas, “Aku segera tahu bahwa mereka telah selesai shalat, kalau suara mereka membaca dzikir telah kedengaran”.[Lihat Shahih Muslim I, Bab Shalat. Hal senada juga diungkapkan oleh al Bukhari (lihat: Shahih al Bukhari hal: 109, Juz I)]

Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung berfirman: Aku adalah menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berzikir (dengan menyebut nama)Ku. Jika ia mengingat Aku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam Diri-Ku, dan jika ia menyebut nama-Ku dalam sekelompok manusia, maka Aku menyebutnya dalam sekelompok manusia yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku mendekatinya sehasta, jika ia mendekati-Ku sehasta, maka Aku mendekatinya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari kecil. [HR. Muslim, Kitab az-Zikr, No. 2/2675].

Diriwayatkan dari Abi Musa, ia berkata: Kami pernah bersama Nabi saw dalam suatu perjalanan. Kemudian orang-orang mengeraskan suara dalam bertakbir. Lalu Nabi saw bersabda: Hai manusia, kecilkanlah suaramu, sebab kamu tidak berdoa kepada orang yang tuli dan jauh, melainkan kamu berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia bersamamu … [HR. Muslim, Kitab az-Zikr, No. 44/2704].

Dari berbagai hadits di atas sebetulnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa dzikir berjama’ah dan suara jahar/keras seperti sholat Subuh, Maghrib, dan Isya itu dibolehkan. Jika tidak, tentu dalam sholat tersebut kita dilarang mengeraskan suara.

Yang dilarang adalah suara keras yang berteriak-teriak seperti keledai sehingga mengganggu orang lain. Ibaratnya jika ada orang berbicara dengan kita dengan berteriak-teriak dengan suara keras tentu kita tersinggung bukan? Kita tidak tuli. Tapi kalau berbisik-bisik tidak kedengaran juga kita tidak bisa mendengar.

Jika dzikir berjama’ah dan bersuara keras itu dilarang, dan orang dzikir sendirian dengan tidak bersuara, niscaya kita tidak akan bisa mendapatkan berbagai dzikir dari Nabi. Afala ta’quluun. Apakah kalian tidak berakal? Begitu kata Allah.

Tidak pantas juga bagi seorang Muslim untuk mudah menganggap sesat atau mengkafirkan sesama Muslim yang masih sholat dan mengucapkan 2 kalimat syahadah. Jika begitu, maka mereka itu lemah imannya atau mungkin justru tidak punya iman:

Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)

Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)

Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah, ” Nabi menyalahkannya dengan sabdanya, “Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” Usamah lalu berkata, “Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah karena takut mati.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kamu mengetahui isi hatinya?” [HR Bukhari dan Muslim]

http://media-islam.or.id/2011/11/30/haram-berteman-dengan-kafir-harbi-dan-membunuh-sesama-muslim/

Kaum Salafi Wahabi ini begitu bengis terhadap sesama Muslim. Namun terhadap kaum kafir seperti Yahudi dan Nasrani (AS dan Israel) mereka amat bersahabat. Orang yang benar-benar beriman dan ingin memurnikan ajaran Islam tidak akan begitu.

Kaum Syi’ah mereka kafirkan. Di Timur Tengah, mereka saling bunuh dan bom masjid dengan kaum Syi’ah. Di Indonesia, kelompok Aswaja/NU sudah kenyang dibid’ah-bid’ahkan oleh mereka terkait hal di atas. Demo Hizbut Tahrir mereka anggap Bid’ah. Bahkan terhadap sesama Salafi pun mereka pecah dan saling caci sehingga kata-kata yang tidak pantas seperti “KECOAK” dilontarkan kepada sesama mereka:

Abdul Mu’thi:
Khususnya yang berkenaan tentang Abu Nida’, Aunur Rafiq, Ahmad Faiz serta kecoak-kecoak yang ada di bawah mereka. Mereka ternyata tidak berubah seperti sedia kala, dalam mempertahankan hizbiyyah yang ada pada mereka (www.salafy.or.id, manhaj: “Bahaya jaringan JI dari Kuwait dan At Turots”, Abdul Mu’thi, Abu Ubaidah Syafrudin dan Abdurahman Wonosari).

http://myquran.org/forum/index.php?action=profile;area=showposts;u=27174

http://salafytobat.wordpress.com/2008/09/11/salafy-haraky-vs-salafy-yamani-vs-salafy-sururi/

Kata-kata Ular dilontarkan terhadap sesama Muslim:

Nah liciknya, ketika salafi dan jihadi sedang bertempur membela manhajnya masing-masing, kelompok bid’ah hasanah menyelusup ke dalam barisan jihadi seperti ular berbisa lalu menebar racunnya secara membabi buta, entah kepada jihadi atau kepada salafi.

http://muhibbulislam.wordpress.com/2011/04/30/salafi-antara-jihad-dan-bencana-bid%E2%80%99ah-hasanah/

Bagaimana mungkin seorang ulama kata-katanya penuh dengan “Kebun Binatang”? Kata-kata seperti “Kecoak”, “Ular Berbisa” dilabelkan kepada manusia. Jangankan ulama/dai, bagi orang awam pun itu tidak pantas. Allah benci dengan orang yang seperti itu:

Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji, yang berkata kotor dan membenci orang yang meminta-minta dengan memaksa. (AR. Ath-Thahawi)

Orang yang paling dibenci Allah ialah yang bermusuh-musuhan dengan keji dan kejam. (HR. Bukhari)

Nabi Muhammad itu diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia:

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)

Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

Dalam Surat Al Hujuraat 11-12 Allah melarang orang-orang yang beriman mengolok-olok dan memaki satu kaum dan menggunjing (ghibah) orang lain. Orang yang melakukan itu di akhirat kelak akan memakan bangkai yang busuk.

Bagaimana mungkin kita mengaku “MENGHIDUPKAN SUNNAH” jika kita ‘MEMATIKAN AL QUR’AN”? Melanggar ayat-ayat Al Qur’an di atas seperti memaki manusia sebagai Kecoak dan Ular?

Nabi Muhammad dan orang Islam yang benar itu kasih sayang dengan sesama dan keras terhadap orang-orang kafir. Bukan seperti Salafi Wahabi di atas:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” [Al Fath 29]

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah 54]

Orang-orang yang beriman tidak akan mengambil kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al Maa-idah 51]

Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]

Tidak jarang kaum Salafi Wahabi memperdebatkan hadits-hadits meski “lawannya” juga punya argumen dari Hadits Bukhari seperti Abu Bakar yang Isbal tapi tidak dihukum haram oleh Nabi. Akibatnya timbul fitnah dan perpecahan. Padahal jangankan hadits, Al Qur’an saja jika isinya tidak jelas (Mutasyabihat) Allah melarang kita untuk memperdebatkannya karena khawatir timbul perpecahan:

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. : [Ali 'Imran 7]

Dakwah Nabi adalah menyeru manusia kepada kalimat Tauhid. Masuk ke dalam Islam. Untuk itu Nabi mengirim berbagai surat ajakan masuk Islam ke Kaisar Romawi Heraklius, Kisra Persia, Raja Mesir Muqowqis, dsb. Nah kalau Wahabi bukan menyeru orang-orang kafir ke dalam Islam atau pun mengajarkan pokok2 ajaran Islam tapi justru meributkan hal-hal furu’iyah/khilafiyyah dsb yang akhirnya mengeluarkan vonis bahwa kelompok Muslim ini bid’ah, kelompok Muslim itu sesat. Merusak Persatuan Islam dan Ukhuwah Islamiyah:

“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar Ruum:32]

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” [Al An’aam:159]

Jadi bukannya memurnikan ajaran Islam, justru melanggar banyak ayat-ayat Al Qur’an dan menimbulkan perpecahan ummat Islam.


Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]
Inilah peta Najd:
Walau pun kaum Salafi berdalih bahwa Najd yang dimaksud bukan Najd di dekat Riyadh yang terkenal itu, tapi di Iraq, namun pendapat itu keliru. Pertama saat Hadits itu muncul ada orang Najd asli (bukan dari Iraq). Jika bukan Najd itu yang dimaksud, tentu Nabi akan menjelaskan bahwa Najd di Iraq lah agar mereka tidak tersinggung dan tidak timbul FITNAH.
Kedua, di hadits lain disebut bahwa Najd yang dimaksud di sebelah timur Madinah. Jelas itu Najd di dekat Riyadh karena posisinya pas di timur. Sedang Iraq posisi di peta agak disebelah utara:
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: 
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167)
Saat Mu’awiyah berontak kepada Khalifah Ali, Islam terbagi 3: Sunni (Pendukung Mu’awiyah), Syi’ah Ali (Pendukung Ali), dan Khawarij. Pada dasarnya Khawarij itu aqidah dan amalnya adalah Islam. Namun karena mereka mengkafirkan orang Islam di luar kelompoknya bahkan membunuh Sayidina Ali, maka jumhur ulama menganggap Khawarij keluar dari Islam. Bukan Islam.
Jadi meski mengaku “Menghidupkan Sunnah”, namun jika mengkafirkan orang yang membaca Syahadah dan Sholat (meyakini 6 rukun Iman dan melaksanakan 5 rukun Islam) apalagi sampai membunuhnya, mereka adalah Khawarij. Bukan Islam.
Dari Abu Huroiroh ra bahwasanya Nabi SAW bersabda:

إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء به أحدهما

“Apabila seseorang mengatakan kepada saudaranya: Wahai orang kafir, maka perkataan itu akan menimpa salah satu dari keduanya.” [HR Bukhari]
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengangkat senjata melawan kita, bukanlah termasuk golongan kita.” Muttafaq Alaihi.  
Pada ayat-ayat Al Qur’an di atas juga dijelaskan jika orang Islam itu lemah-lembut terhadap sesama dan keras terhadap orang-orang kafir. Jadi jika terhadap sesama Muslim begitu keras seperti mengkafirkan bahkan membunuh, dia bukan Islam.
Waspadailah kaum Khawarij meski mengaku Muslim dan begitu fasih membaca Al Qur’an, namun mereka justru mengkafirkan dan memerangi ummat Islam sedang penyembah berhala dan oramg-oramg kafir seperti Yahudi dan Nasrani justru aman dari tangan mereka:
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Seseorang datang kepada Rasulullah saw. di Ji`ranah sepulang dari perang Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak. Dan Rasulullah saw. mengambilnya untuk diberikan kepada manusia. Orang yang datang itu berkata: Hai Muhammad, berlaku adillah! Beliau bersabda: Celaka engkau! Siapa lagi yang bertindak adil, bila aku tidak adil? Engkau pasti akan rugi, jika aku tidak adil. Umar bin Khathab ra. berkata: Biarkan aku membunuh orang munafik ini, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya memang membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1761)
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:
Ali ra. yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah saw., kemudian Rasulullah saw. membagikannya kepada beberapa orang, Aqra` bin Habis Al-Hanzhali, Uyainah bin Badr Al-Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al-Amiri, seorang dari Bani Kilab, Zaidul Khair At-Thaiy, seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Apakah baginda memberi para pemimpin Najed, dan tidak memberikan kepada kami? Rasulullah saw. bersabda: Aku melakukan itu adalah untuk mengikat hati mereka. Kemudian datang seorang lelaki yang berjenggot lebat, kedua tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, jidatnya jenong dan kepalanya botak. Ia berkata: Takutlah kepada Allah, ya Muhammad! Rasulullah saw. bersabda: Siapa lagi yang taat kepada Allah jika aku mendurhakai-Nya? Apakah Dia mempercayai aku atas penduduk bumi, sedangkan kamu tidak mempercayai aku? Lalu laki-laki itu pergi. Seseorang di antara para sahabat minta izin untuk membunuh laki-laki itu (diriwayatkan bahwa orang yang ingin membunuh itu adalah Khalid bin Walid), tetapi Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara bangsaku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

Anjuran untuk membunuh orang-orang Khawarij

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

Golongan Khawarij adalah seburuk-buruk manusia

Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.:
Dari Yusair bin Amru, ia berkata: Saya berkata kepada Sahal: Apakah engkau pernah mendengar Nabi saw. menyebut-nyebut Khawarij? Sahal menjawab: Aku mendengarnya, ia menunjuk dengan tangannya ke arah Timur, mereka adalah kaum yang membaca Alquran dengan lisan mereka, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1776)

Referensi:

Pandangan FPI terhadap Wahabi:

Ada pun Pandangan FPI terhadap WAHABI sebagai berikut : FPI membagi WAHABI dengan semua sektenya juga menjadi TIGA GOLONGAN ; Pertama, WAHABI TAKFIRI yaitu Wahabi yang mengkafirkan semua muslim yang tidak sepaham dengan mereka, juga menghalalkan darah sesama muslim, lalu bersikap MUJASSIM yaitu mensifatkan Allah SWT dengan sifat-sifat makhluq, dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari USHULUDDIN yang disepakati semua MADZHAB ISLAM. Wahabi golongan ini KAFIR dan wajib diperangi.
Kedua, WAHABI KHAWARIJ yaitu yang tidak berkeyakinan seperti Takfiri, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan mau pun tulisan terhadap para Ahlul Bait Nabi SAW seperti Ali RA, Fathimah RA, Al-Hasan RA dan Al-Husein RA mau pun ‘Itrah/Dzuriyahnya. Wahabi golongan ini SESAT sehingga mesti dilawan dan diluruskan.
Ketiga, WAHABI MU’TADIL yaitu mereka yang tidak berkeyakinan Takfiri dan tidak bersikap Khawarij, maka mereka termasuk MADZHAB ISLAM yang wajib dihormati dan dihargai serta disikapi dengan DA’WAH dan DIALOG dalam suasana persaudaraan Islam.

Pandangan Habib Munzir Al Musawa dari Majelis Rasulullah tentang Wahabi:

beda dengan orang orang wahabi, mereka tak punya sanad guru, namun bisanya cuma menukil dan memerangi orang muslim.
mereka memerangi kebenaran dan memerangi ahlussunnah waljamaah, memaksakan akidah sesatnya kepada muslimin dan memusyrikkan orang orang yg shalat.
salaf, artinya adalah kaum yg terdahulu, salaf adalah istilah bagi Ulama Ulama yg terdahulu di masa setelah Tabi’ Tabiin, namun kaum penganut ajaran wahabi menamakan dirinya salafy, padahal mereka tak mengikuti ajaran ulama salaf yg terkenal berbudi luhur, ahli ibadah, ahli ilmu syariah.
mereka ini muncul di akhir zaman justru membawa ajaran sesat dan mengaku salaf.

Kadang Kebenaran Tidak Hanya Satu

Terkadang ada kelompok Islam yang ekstrim yang memandang kebenaran hanya 1. Jika 1 benar (biasanya kelompok mereka), maka yang lain salah. Sesat atau Kafir. Wal hasil, mereka pun jadi kelompok Khawarij yang menganggap semua Muslim selain kelompok mereka adalah sesat atau kafir, bahkan boleh dibunuh.
Padahal kebenaran kadang menurut Nabi bisa lebih dari 1. Saat para sahabat beberapa kali berselisih karena adanya perbedaan, saat Nabi menengahi ternyata semua sahabat itu benar. Tidak ada yang salah. Nabi tidak mencela salah satu dari mereka sebagai ahli bid’ah, sesat, kafir, dan sebagainya sebagaimana sebagian kaum Khawarij sekarang.
Sebagai contoh para Sahabat Nabi pernah berselisih bahkan nyaris berkelahi saat terjadi perbedaan cara membaca Al Qur’an. Ternyata Nabi menjelaskan bahwa ada 7 cara membaca Al Qur’an sehingga ada 7 cara yang berbeda-beda meski semuanya benar. Tentu saja arti/isinya tetap sama. Silahkan lihat hadits-hadits tentang itu di bawah di antaranya:
1. Imam Bukhari dan Imam Muslim
Dalam shahihnya meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Jibril membacakan Al-Qur’an kepadaku dengan satu hurut kemudian aku mengulanginya. (Setelah itu) senantiasa aku meminta tambah dan iapun menambahiku sampai dengan tujuh huruf”. Imam Muslim menambahkan: “Ibnu Syihab mengatakan: Telah sampai berita padaku bahwa tujuh huruf itu untuk perkara yang satu yang tidak diselisihkan halal haramnya”.
2. Imam Bukhari
Meriwayatkan yang lafazhnya dari Bukhari bahwa; Umar bin Khattab berkata: “Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan di masa hidupya Rasulullah SAW, aku mendengar bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang belum pernah Rasulullah SAW membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak dari shalat, kemudian aku menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik sorbannya dan bertanya: “Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?”. Ia menjawab: “Rasulullah SAW yang membacakannya kepadaku”, aku menyela: “Dusta kau, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah SAW telah membacakan surat yang telah kudengar dari yang kau baca ini”.
Setelah itu aku pergi membawa dia menghadap Rasulullah SAW lalu aku bertanya: “Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca surat Al-Furqan dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri telah membacakan surat Al-Furqan ini kepadaku”. Rasulullah SAW menjawab: “Hai Umar! lepaskan dia. “Bacalah Hisyam!”. Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar ketika ia membacanya. Rasululllah SAW bersabda: “Begitulah surat itu diturunkan” sambil menyambung sabdanya: “Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah yang paling mudah!”.
Dalam satu riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendengarkan pula bacaan sahabat Umar r.a. kemudian beliau bersabda: “Begitulah bacaan itu diturunkan”.
Saat berbeda pun dalam berpuasa di perjalanan para sahabat tidak saling cela. Ada yang berbuka, ada pula yang tetap berpuasa:
Anas bin Maalik berkata: “Kami sedang bermusafir bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semasa Ramadhan dan di kalangan kami ada yang berpuasa, ada yang tidak berpuasa. Golongan yang berpuasa tidak menyalahkan orang yang tidak berpuasa dan golongan yang tidak berpuasa tidak menyalahkan orang yang berpuasa. [ hadist riwayat Bukhari and Muslim]
Terhadap 2 laki-laki yang berbeda saat shalat tidak mendapatkan air pun Nabi membenarkan keduanya. Semua benar. Tidak ada yang salah:
Dari Abu Said al-Khudri. Diriwayatkan, suatu ketika dua laki-laki melakukan perjalanan. Ketika waktu shalat tiba, keduanya tak mendapatkan air. Maka, mereka pun bertayamum. Tak lama kemudian, keduanya mendapatkan air—setelah shalat. Lalu, salah seorang di antara keduanya mengulang shalat dengan berwudhu. Sementara temannya tidak mengulangi lagi shalatnya.
Ketika bertemu Nabi saw, keduanya memaparkan perbedaan pendapat itu. Kepada yang tidak mengulang shalatnya, Nabi saw bersabda, “Engkau telah menepati sunnah dan shalatmu sah.“ Adapun kepada laki-laki yang berwudhu dan mengulang shalatnya, Nabi saw bersabda, “Anda mendapatkan dua pahala.“ (HR Abu Daud dan Nasai). 
Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar c, bahwa Rasulullah n bersabda pada peristiwa Ahzab:
لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ. فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمْ الْعَصْرَ فِي الطَّرِيقِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ نُصَلِّي، لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ. فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ
“Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu ada di antara mereka mendapati waktu ‘Ashar di tengah jalan, maka berkatalah sebagian mereka: “Kita tidak shalat sampai tiba di sana.” Yang lain mengatakan: “Bahkan kita shalat saat ini juga. Bukan itu yang beliau inginkan dari kita.” Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah n namun beliau tidak mencela salah satunya.”
Ibnu Hajar Al-’Asqalani v (dalam Al-Fath) setelah menerangkan sebagian isi hadits ini mengatakan: “Kesimpulan dari kisah ini ialah bahwa para sahabat ada yang memahami larangan ini berdasarkan hakikatnya. Mereka tidak memedulikan habisnya waktu sebagai penguat larangan yang kedua terhadap larangan pertama yaitu menunda shalat sampai akhir waktunya. Mereka menjadikan hadits ini sebagai dalil bolehnya menunda waktu shalat karena disibukkan oleh peperangan, sama halnya dengan kejadian pada masa itu, dalam peristiwa Khandaq. Juga telah disebutkan dalam hadits Jabir z bahwa mereka shalat ‘Ashar setelah matahari terbenam karena sibuk berperang… Yang lain memahaminya sebagai kiasan untuk mendorong mereka agar bersegera menuju Bani Quraizhah.
Dari hadits ini, jumhur mengambil kesimpulan tidak ada dosa atas mereka yang sudah berijtihad, karena Rasulullah n tidak mencela salah satu dari dua kelompok sahabat tersebut.”
Bahkan di zaman Sahabat pun yang namanya perbedaan penafsiran itu sudah ada. Namun hendaknya dalam berbeda tersebut kita tidak saling cela, saling hina, bahkan mengkafirkan dan membunuh kelompok lain. Karena itu adalah tindakan kaum Khawarij yang keluar dari Islam.
Saat Mu’awiyah berontak kepada Khalifah Ali ra, ummat Islam terbagi 3. Pertama Sunni yang mendukung Mu’awiyah. Kedua Syi’ah Ali yang mendukung Khalifah Ali. Ketiga adalah Khawarij. Dari sisi Aqidah dan amal saat itu mereka semua sama karena berasal dari Islam yang satu. Perpecahan saat itu hanya karena faktor politik. Faktor kekuasaan.
Namun Khawarij dianggap sesat/keluar dari Islam karena mereka mengkafirkan sesama Muslim di luar kelompok mereka. Bahkan mereka membunuh Khalifah Ali yang merupakan sahabat utama dan juga sepupu dan menantu Nabi Muhammad SAW.
Ciri dari kaum Khawarij adalah mereka merasa benar sendiri dan yang lain salah. Mereka memaksakan pendapat mereka ke kelompok yang lain agar diterima sebagai satu-satunya kebenaran. Mereka menganggap ulama lain di luar kelompok mereka sesat. Jangankan ulama, dedengkot Khawarij saja menganggap Nabi Muhammad sebagai tidak adil/sesat.
Mereka sering mengucapkan Al Qur’an dan Hadits. Sayangnya ucapan itu tidak melampaui tenggorokan mereka. Tidak mereka amalkan. Al Qur’an dan Hadits mereka pakai justru untuk membid’ahkan/menyesatkan/mengkafirkan orang Islam. Sementara para penyembah berhala dan orang-orang kafir justru aman dari lisan dan tangan mereka. Oleh sebab itu ada ungkapan: Nabi itu gemar mengIslamkan orang Kafir. Namun Khawarij gemar mengKafirkan Orang Islam.
Kaum Khawarij ini meski merasa benar seperti memurnikan ajaran Islam atau Tauhid, namun justru melanggar banyak perintah Allah dalam Al Qur’an. Di antaranya:
1. Mereka buruk sangka/su’u zhon terhadap sesama Muslim. Mengolok-olok dan menghina sesama Muslim. Mereka cari-cari aib/kesalahan sesama Muslim (padahal hanya Nabi yang maksum) untuk disebarkan. Ini melanggar firman Allah di Surat Al Hujuraat 11-12.
2. Memecah belah persatuan Islam dengan menganggap sesat/kafir sesama Muslim. Ini berlawanan dengan surat Al Hujuraat 10, Surat Ali ‘Imran 103-105,  dan berbagai hadits Nabi yang menyatakan ummat Islam itu satu dan ibarat 1 tubuh.
3. Gemar berdebat hanya untuk menimbulkan fitnah dan perpecahan. Hadits saja mereka perdebatkan panjang lebar hanya untuk membid’ahkan/menganggap sesat Muslim lainnya meski lawannya juga punya pegangan hadits dan Al Qur’an. Padahal jangankan hadits, Al Qur’an saja jika tak jelas maknanya (Mutasyabihaat) dilarang Allah untuk diperdebatkan jika hanya menimbulkan fitnah [Ali ‘Imran 7]
Di antara kaum Khawarij ini menurut Nabi berasal dari Najd [HR Bukhari] yang ada di sebelah Timur Madinah [Shahih Muslim No.1776].
Paling sering isyu yang dipakai adalah Bid’ah untuk memecah-belah ummat Islam. Meski untuk ibadah yang qoth’i seperti sholat 5 waktu, puasa, dsb sudah jelas dan penambahan terhadap itu misalnya sholat wajib jadi 6 waktu atau Subuh 4 roka’at adalah bid’ah yang tidak dapat ditolerir, namun ada pula hal-hal yang meski sekilas itu bid’ah, tapi itu bukan bid’ah yang sesat.
Misalnya Nabi melarang penulisan Al Qur’an karena saat itu memang proses turunnya Al Qur’an sedang berjalan. Namun begitu turunnya Al Qur’an sudah sempurna dan Nabi telah wafat, Umar ra menyarankan kepada Khalifah Abu Bakar ra agar segera mengumpulkan dan menuliskan Al Qur’an agar Al Qur’an tidak lenyap mengingat banyak sahabat yang hafal Al Qur’an mati syahid di peperangan. Abu Bakar meski sempat menolak karena menganggap itu bid’ah, akhirnya mengikuti saran Umar dan mengumpulkan Al Qur’an. Pada saat Khalifah Usman ra, Al Qur’an selesai dikumpulkan dalam bentuk Mushaf Usmani yang ditulis sebanyak 7 salinan yang dikirim ke berbagai kota.
Jadi penulisan Al Qur’an bukan bid’ah. Demikian pula pengumpulan Hadits yang juga dilarang Nabi dan Sahabat, akhirnya mulai dibukukan jika tidak, maka hadits-hadits akan terlupakan. Padahal di hadits banyak petunjuk Nabi tentang rincian sholat, puasa, zakat, dsb. Itu juga bukan Bid’ah.
Khalifah Umar ra yang mengumpulkan orang-orang yang shalat tarawih sendiri-sendiri jadi berjama’ah di masjid pun bukan bid’ah yang sesat. Jadi dalam memvonis bid’ah harus hati-hati. Tidak semua hal yang tidak ada pada zaman Nabi itu bid’ah sehingga kita menghina orang yang melakukan Bid’ah sebagai Ahlul Bid’ah padahal mereka itu mengucapkan kalimat Syahadah dan sholat.
Kelompok Khawarij ini meski jumlahnya sedikit, namun bangga dengan kelompoknya dan menganggap hanya mereka yang benar. Mereka merasa sebagai Gharibin (orang asing) yang jumlahnya sedikit di saat kebanyakan Muslim lainnya sesat. Mereka pakai hadits 72 golongan Islam sesat dan hanya 1 golongan yang benar untuk membenarkan bahwa memang kelompok yang sedikit (kelompok mereka) itulah yang benar dan yang lain salah.
Padahal di hadits tersebut dijelaskan bahwa kelompok yang selamat adalah kelompok Ahlus Sunnah Wal JAMA’AH. Arti kata Jama’ah itu banyak. Bukan sedikit/sempalan. Jadi meski 1 golongan, bisa jadi jumlahnya 1 milyar lebih. Sedang yang 72 golongan itu paling sekitar 1 juta saja per kelompok.
Gharibin itu pun berlaku setelah Imam Mahdi meninggal karena saat Imam Mahdi hidup, mayoritas ummat Islam itu benar dan berjaya. Apalagi ada hadits Nabi yang menyatakan ummat Nabi tak mungkin sepakat di atas kesesatan.
Dari ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ وَمَنْ أَرَادَ بِحَبْحَةِ الْجَنَّةِ فَعَلَيْهِ بِالْجَماعَةِ
“Tetaplah bersama jamaah dan waspadalah terhadap perpecahan. Sesungguhnya setan bersama satu orang, namun dengan dua orang lebih jauh. Dan barang siapa yang menginginkan surga paling tengah maka hendaklah bersama jamaah”
[Shahîh, diriwayatkan Ibnu Abu 'Ashim dalam as-Sunnah (87), Imam Ahmad dalam Musnad-nya (1/18), Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2165), Imam al-Hakim dalam Mustadrak-nya (387), dan Imam al-Ajuri dalam asy-Syariah (5)]

كُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم عَلَى ضَلاَلَةٍ

Tetaplah kalian bersama jamaah maka sesungguhnya Allah tidak menghimpun umat Muhammad di atas kesesatan.”
Sanadnya jayyid, diriwayatkan Imam Ibnu ‘Ashim dalam Sunnah-nya (85). Hadits ini diriwayatkan Imam ath-Thabrani dari dua jalan, dan salah satu jalurnya para perawinya terpercaya sebagaimana yang telah disebutkan dalam Majma Zawa`id (5/219
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أُمَّتِي لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ .
“Sesungguhnya, umatku tidak akan sepakat di atas kesesatan. “
Shahîh, diriwayatkan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3950) dan al-Khathib at-Tibrizi dalam Misykatul- Mashabih (174). Diriwayatkan juga oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2167), al-Khathib at-Tibrizi dalam Misykatul-Mashabih (174), dan al-Hakim dalam Mustadrak-nya (391, 392, 393, 394, 395, 396 dan 397) dari Ibnu ‘Umar dengan lafazh: “Sesungguhnya Allah tidak menghimpun umatku atau umat Muhammad di atas kesesatan”. Hadits ini dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam al-Miskât (no. 173) dan terdapat shahid dari hadits Ibnu ‘Abbas yang dikeluarkan at-Tirmidzi dan al-Hakim serta yang lainnya dengan sanad yang shahîh. Lihat Shahîhul Jami’, al-Albâni (1/378, no. 1848)
Jadi perbedaan pendapat itu biasa. Lain orang, lain pula pendapatnya. Bahkan kita sendiri kadang bingung akan pilihan yang harus kita pilih. Kita harus toleran dalam perbedaan selama masih dalam koridor syari’ah. Jangan sampai kita berpecah-belah setiap ada perbedaan yang ada sehingga timbul fitnah.
40. Menyebutkan golongan Khawarij dan sifat mereka
Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Seseorang datang kepada Rasulullah saw. di Ji`ranah sepulang dari perang Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak. Dan Rasulullah saw. mengambilnya untuk diberikan kepada manusia. Orang yang datang itu berkata: Hai Muhammad, berlaku adillah! Beliau bersabda: Celaka engkau! Siapa lagi yang bertindak adil, bila aku tidak adil? Engkau pasti akan rugi, jika aku tidak adil. Umar bin Khathab ra. berkata: Biarkan aku membunuh orang munafik ini, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya memang membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1761)
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:
Ali ra. yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah saw., kemudian Rasulullah saw. membagikannya kepada beberapa orang, Aqra` bin Habis Al-Hanzhali, Uyainah bin Badr Al-Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al-Amiri, seorang dari Bani Kilab, Zaidul Khair At-Thaiy, seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Apakah baginda memberi para pemimpin Najed, dan tidak memberikan kepada kami? Rasulullah saw. bersabda: Aku melakukan itu adalah untuk mengikat hati mereka. Kemudian datang seorang lelaki yang berjenggot lebat, kedua tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, jidatnya jenong dan kepalanya botak. Ia berkata: Takutlah kepada Allah, ya Muhammad! Rasulullah saw. bersabda: Siapa lagi yang taat kepada Allah jika aku mendurhakai-Nya? Apakah Dia mempercayai aku atas penduduk bumi, sedangkan kamu tidak mempercayai aku? Lalu laki-laki itu pergi. Seseorang di antara para sahabat minta izin untuk membunuh laki-laki itu (diriwayatkan bahwa orang yang ingin membunuh itu adalah Khalid bin Walid), tetapi Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara bangsaku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)
41. Anjuran untuk membunuh orang-orang Khawarij
Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)
42. Golongan Khawarij adalah seburuk-buruk manusia
Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.:
Dari Yusair bin Amru, ia berkata: Saya berkata kepada Sahal: Apakah engkau pernah mendengar Nabi saw. menyebut-nyebut Khawarij? Sahal menjawab: Aku mendengarnya, ia menunjuk dengan tangannya ke arah Timur, mereka adalah kaum yang membaca Alquran dengan lisan mereka, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1776)
Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]
3. Imam Muslim
Meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubay Bin Ka’ab ia berkata: “Aku berada di masjid, tiba-tiba masuklah lelaki, ia shalat kemudian membaca bacaan yang aku ingkari. Setelah itu masuk lagi lelaki lain membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama”. Setelah kami selesai shalat, kami bersama-sama masuk ke rumah Rasulullah SAW, lalu aku bercerita: “Bahwa si lelaki ini membaca bacaan yang aku ingkari dan kawannya ini membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama”. Akhirnya Rasulullah SAW memerintahkan keduanya untuk membaca.
Setelah mereka membaca Rasulullah SAW menganggap baik bacaannya. Setelah menyaksikan hal itu, terhapuslah dalam diriku sikap untuk mendustakan, tidak seperti halnya diriku ketika masa Jahiliyyah. Nabi menjawab demikian tatkala beliau melihat diriku bersimbah peluh karena kebingungan, ketika itu keadaan kami seolah-olah berkelompok-kelompok di hadapan Allah Yang Maha Agung.
Setelah melihat saya dalam keadaan demikian, beliau menegaskan pada diriku dan berkata: “Hai Ubay! Aku diutus untuk membaca Qur’an dengan suatu huruf lahjah (dialek)”, kemudian aku meminta pada Jibril untuk memudahkan umatku, dia membacakannya dengan huruf kedua, akupun meminta lagi padanya untuk memudahkan umatku, lalu ia menjawab untuk ketiga kalinya. “Hai Muhammad, bacalah Qur’an dalam 7 lahjah dan terserah padamu Muhammad apakah setiap jawabanku kau susul dengan pertanyaan permintaan lagi”.
Kemudian aku menjawabnya: “Wahai Allah! Ampunilah umatku, ampunilah umatku dan akan kutangguhkan yang ketiga kalinya pada saat dimana semua makhluk mencintaiku sehingga Nabi Ibrahim as”. Imam Qurthubi berkata: “Denyutan hati ini (dalam jiwa Ubay) akibat dari sabda Rasulullah SAW ketika orang-orang bertanya kepadanya: “Bahwasanya kami mendapatkan sesuatu dalam diri kami, dimana seseorang merasa berat sekali untuk mengatakannya”. Rasulullah SAW bertanya: “Apakah sudah kalian temui jawabannya?”. “Ya” jawab mereka. Rasulullah SAW bersabda: “Itu adalah iman yang jelas”. (HR. Muslim)
4. Al-Hafizh Abu Ya’la
Dalam musnad kabirnya meriwayatkan: “Bahwa Utsman r.a. pada suatu hari ia berkata di atas mimbar: “Aku sebut nama Allah teringat seorang lelaki yang mendengar Rasulullah SAW bersabda: bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf yang kesemuanya tegas lagi sempurna”. Ketika Umar berdiri para hadirin berkata: “Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf yang kesemuanya tegas dan lengkap”. Kemudian Utsman r.a. berkata: “Saya menyaksikannya bersama mereka”.
5. Imam Muslim
Dengan sanad dari Ubay bin Ka’ab meriwayatkan bahwa Nabi SAW ketika berada di Oase Bani Ghaffar didatangi malaikat Jibril a.s. lalu Jibril berkata: “Sesungguhnya Allah SWT telah memerintah engkau unfuk membacakan Al-Qur’an kepada ummatmu dengan satu huruf”. Nabi menjawab: “Aku meminta dulu kepada Allah sehat dan ampunannya, sebab ummatku tidak mampu menjalankan perintah itu”.
Kemudian Jibril datang untuk kedua kalinya, seraya berkata: “Allah SWT telah memerintahkan kau untuk membacakan Al-Qur’an dengan dua huruf”. Nabi menjawab: “Aku meminta sehat dan ampunan dulu kepada Allah, karena ummatku tidak kuat menjalankannya”.
Jibril datang lagi untuk ketiga kalinya dan berkata: “Allah SWT telah memerintahkan kau untuk membacakan Al-Qur’an kepada ummatmu dengan tiga huruf. Nabi menjawab: “Aku minta sehat dan maghfirah dulu kepada Allah, sebab ummatku tidak sanggup mengerjakannya”.
Jibril datang lagi untuk keempat kalinya seraya berkata: “Kau telah diperintahkan Allah untuk membacakan Al-Qur’an kepada ummatmu dengan tujuh huruf dan huruf mana saja yang mereka baca berarti benar”.
6. At-Turmudzy
Juga meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, ia mengatakan: “Rasulullah SAW berjumpa dengan Jibril di gundukan Marwah”. Ia (Ka’ab) berkata: “Kemudian Rasul berkata kepada Jibril bahwa aku ini diutus untuk ummat yang ummy (tidak bisa menulis dan membaca). Diantaranya ada yang kakek-kakek tua, nenek-nenek bangka dan anak-anak”. Jibril menjawab: “Perintahkan, membaca Al-Qur’an dengan tujuh huruf”. Imam Turmudzy mengatakan: “Hadits ini hasan lagi shahih”.
Dalam suatu lafazh lain disebutkan: “Barangsiapa membacanya dengan satu huruf saja berarti telah membaca seperti ia (Nabi) membaca”.
Dituturkan dalam lafazh Hudzaefah, kemudian aku berkata: “Wahai Jibril bahwa aku diutus untuk ummat yang ummiyah di dalamnya terdapat orang lelaki, perempuan, anak-anak, pelayan (babu) dan kakek tua yang tidak bisa membaca sama sekali”. Jibril balik berkata: “Bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf”.
7. Imam Ahmad
Mengeluarkan hadits dengan sanadnya dari Abi Qais maula ‘Amar bin ‘Ash dari ‘Amr, “Bahwa ada seseorang ini berdiri sehingga tidak terang membaca satu ayat Al-Qur’an”. Kemudian ‘Amr berkata kepadanya: “Sebenarnya ayat itu begini dan begini”. Setelah itu ia mengatakan hal itu kepada Rasulullah SAW, Rasulullah SAW menjawab: “Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, mana saja yang kalian baca berarti benar dan jangan kalian saling meragukan”.
8. Ath-Thabary dan Ath-Thabrany
Meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Ia berkata: “Ada seseorang datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: “Ibnu Mas’ud telah membacakan sebuah surat kepadaku seperti yang telah dibacakan oleh Zaid bin Tsabit dan membacakan pula kepadaku Ubay bin Ka’ab. Ternyata bacaan mereka berbeda-beda. Maka bacaan siapa yang saya ambil?”. Rasulullah SAW terdiam, sedangkan shahabat ‘Ali berada di sampingnya, kemudian ‘Ali berkata: “Setiap orang diantara kalian hendaklah membaca menurut pengetahuannya, karena kesemuanya baik lagi indah”.
9. Ibnu Jarir Ath-Thabary
Mengeluarkan hadits dari Abi Hurairah, bahwa ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah semampunya dan tidak berdosa. Tetapi jangan sekali-kali mengakhiri dzikir rahmat dengan adzab atas dzikir ‘adzab dengan rahmat”.

SESUATU YANG MEMILIKI LANDASAN DALAM SYARIAT TIDAK DINILAI SEBAGAI BID’AH

Sesuatu yang baru itu, jika ia mempunyai asal dan sumber dalam syariat, maka ia tidak dapat dikatakan sebagai bid’ah. Banyak hal yang dibuat oleh kaum Muslimin yang mempunyai asal dan landasan dalam syariat. Misalnya, penulisan dan pengkompilasian (penggabungan) Al-Qur’an dalam satu mushaf, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar berdasarkan usul Umar r.a..
Sebelumnya Abu Bakar merasa berat untuk melaksanakan rencana itu. Ia berkata, “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.?” Namun, Umar terus membujuknya dan memberikan argumentasi betapa pentingnya hal itu hingga akhirnya Abu Bakar menerima usul itu dan melaksanakannya.[23] Karena, hal itu demi kebaikan dan kepentingan kaum muslimin, meskipun hal itu tidak dilakukan oleh Nabi saw.. Agama Islam dapat dipertahankan dengan menjaga dan memelihara Al-Qur an itu, dan Al-Qur an adalah pokok agama, sumber, dan pokok yang abadi. Oleh karena itu, kita harus menjagaAl-Qur’an dari kemungkinan tercecer atau mengalami kesimpangsiuran.
Nabi saw telah mengizinkan pencatatan wahyu saat wahyu diturunkan. Dan, beliau memiliki sekretaris yang bertugas mencatat wahyu-wahyu yang diturunkan (Zaid bin Tsabit). Semua itu dilakukan dalam upaya menjaga dan memelihara Al-Qur’an.
Selama masa hidup Nabi saw., beliau tidak mengkompilasikan Al-Qur’an dalam satu kesatuan. Karena, pada saat itu, ayat-ayat Al-Qur’an terus turun secara beriringan, dan Allah SWT terkadang mengubah sebagian ayat yang telah diturunkan kepada Rasulullah saw. itu. Sehingga, jika ayat-ayat yang diturunkan itu langsung dikompilasikan ke dalam satu kesatuan, niscaya akan ditemukan kesulitan jika terjadi perubahan dari Allah SWT. Terkadang, saat suatu ayat diturunkan, Rasulullah saw. memerintahkan kepada para pencatat wahyu, letakkanlah ayat ini dalam surah itu (surah tertentu), dan masing-masing surah dalam Al-Qur’an belum diketahui sudah lengkap atau belum ayat-ayatnya, hingga seluruh ayat Al-Qur’an selesai diturunkan.
Surah al-Baqarah misalnya, ia turunkan pada permulaan era Madinah. Namun, ayat-ayat dalam surah itu baru terlengkapi setelah lewat delapan tahun. Dan, di dalamnya terdapat ayat-ayat yang oleh ulama dikelompokkan sebagai ayat-ayat yang terakhir diturunkan. Seperti pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ayatAl-Qur’an yang terakhir diturunkan adalah firman Allah SWT: “Dan, peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian, masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (al-Baqarah: 281)
Oleh karena itu, selama masa itu, Nabi saw. melarang upaya pengkompilasian Al-Qur an. Namun, saat kelengkapan Al-Qur’an telah diketahui, setelah wafatnya Rasulullah saw., maka para sahabat merasa aman dari kemungkinan adanya penambahan dan pengurangan Al-Qur an. Oleh karena itu, mereka segera mencatat ayat-ayatAl-Qur’an yang berserakan dalam berbagai media dan mengkompilasikannya dalam satu mushaf. Dengan demikian, hal ini mempunyai dasar dan sandaran dalam syariat sehingga perbuatan itu tidak dapat dianggap sebagai bid’ah.
Contoh yang lain adalah tindakan Umar r.a. yang menyatukan orang-orang yang melaksanakan shalat tarawih dalam satu jamaah shalat di bawah satu imam shalat, yaitu Ubay bin Ka’ab. Sebelumnya, mereka melaksanakan shalat tarawih secara terpisah-pisah dengan imam shalat masing-masing. Bukhari meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abdul Qaari bahwa ia berkata, “Aku berjalan bersama Umar Ibnul-Khaththab pada malam bulan Ramadhan menuju masjid. Pada saat itu, kami menemukan masyarakat melakukan shalat (tarawih) secara terpisah-pisah. Ada yang shalat sendirian dan ada pula yang shalat dengan diikuti oleh beberapa orang makmum. Melihat itu Umar berkata, “Aku berpendapat, seandainya semua orang disatukan dalam jamaah shalat (tarawih) di bawah pimpinan satu orang imam niscaya akan lebih baik.” Dan, rencananya Umar akan mengangkat Ubay bin Ka’ab sebagai imam shalat mereka. Kemudian, pada malam lainnya, aku kembali berjalan bersama Umar (menuju masjid). Saat itu, kami telah mendapati orang-orang sedang melaksanakan shalat (tarawih) di bawah pimpinan satu imam shalat mereka. Melihat itu Umar berkomentar, “Bid’ah[24] yang paling baik adalah ini. Dan, orang yang saat ini tidur adalah lebih baik dari mereka yang melaksanakan qiyamullail pada saat ini karena mereka (yang masih tidur) akan melaksanakannya pada akhir malam, sedangkan orang lainnya melaksanakannya pada awal malam.”[25]
Kata “bid’ah” yang diucapkan oleh Umar tadi, yakni kalimat “bid’ah yang paling baik adalah ini” adalah kata bid’ah dengan pengertian lughawi ‘etimologis’, bukan dengan pengertian terminologis syariat. Karena, kata bid’ah dalam pengertian etimologis adalah “sesuatu yang baru diciptakan atau baru diperbuat” yang belum pernah ada sebelumnya. Yang dimaksud oleh Umar dengan ucapannya itu adalah, manusia sebelumnya belum pemah melaksanakan shalat tarawih dalam kesatuan jamaah shalat seperti itu. Meskipun pada dasarnya, shalat tarawih secara jamaah itu sendiri pernah terjadi pada masa Nabi saw.. Karena, beliau mendorong kaum muslimin untuk melaksanakan shalat itu. Dan, banyak orang yang mengikuti shalat tarawih beliau selama beberapa malam. Namun, saat beliau mendapati banyak orang yang berkumpul untuk melaksanakan shalat tarawih bersama beliau, beliau tidak menemui mereka lagi untuk shalat bersama. Kemudian, pada pagi harinya, beliau bersabda, “Aku melihat apa yang kalian lakukan itu, dan yang menghalangi diriku untuk keluar dan shalat (tarawih) bersama kalian adalah karena aku takut jika shalat itu sampai diwajibkan atas kalian.”[26]
Kekhawatiran ini, yakni kekhawatiran Rasulullah saw. jika Allah SWT mewajibkan shalat tarawih itu, menjadi hilang dengan wafatnya Nabi saw.. Dengan begitu, hilang pula faktor yang menghalangi dilaksanakannya shalat tarawih dalam satu kesatuan jamaah shalat.[27]
Yang terpenting, makna “mukhtara’ah (sesuatu yang baru diciptakan atau baru diperbuat)” itu adalah sesuatu yang tidak diperintahkan oleh syariat.
Dari sini, ulama salaf kemudian mengkompilasikan ilmu-ilmu syariat, kemudian menciptakan ilmu-ilmu baru untuk mendukung syariat itu. Seperti, ilmu ushul fiqih, ilmu musthalah hadits, ilmu-ilmu bahasa Arab, dan sebagainya.
[23] Demikian juga halnya dengan Zaid bin Tsabit yang diperintahkan oleh Abu Bakar untuk mengumpulkan catatan-catatan ayat Al-Qur an dan mengkompilasikannya. Namun, Abu Bakar terus mendorong Zaid hingga Allah SWT melapangkan dadanya, sebagaimana telah terjadi dengan Umar dan Abu Bakar r.a..
[24] Asy-Syathibi berkata bahwa Umar menamakannya seperti itu, dengan melihatnya dari unsur luarnya, yaitu suatu pebuatan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw.. Juga tidak pernah terjadi pada masa Abu Bakar r.a.. Namun, bid’ah yang diucapkannya itu bukan bid’ah dengan pengertian terminologis. Maka, siapa yang menamakan perbuatan tadi sebagai bid’ah, dengan pengertian bid’ah seperti itu, maka tidak ada yang perlu diperdebatkan dalam masalah istilah dan terminologi. Lihatal-I’tishaam, 1/195.
[25] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shalat Tarawih bab “Fadhlu man Qaama Ramadhaan”. Dan, lafal hadits tadi dikutip darinya. Juga diriwayatkan oleh Malik dalam kitab al-Muwaththa, bab “Bad’u Qiyaam Layaali Ramadhaan”
[26] Aisyah r.a. berkata,”Nabi saw. shalat (sunnah pada malam bulan Ramadhan) di masjid, maka orang-orang kemudian mengikuti shalat beliau itu. Pada malam kedua, beliau kembali shalat, dan kali ini para jamaah semakin bertambah banyak. Setelah itu, pada malam ketiga atau keempat, orang-orang berkumpul di masjid, namun Nabi saw. tidak keluar dari rumah beliau. Pada pagi harinya, Rasulullah saw. bersabda, “Aku melihat apa yang kalian lakukan itu, dan yang menghalangi diriku untuk keluar dan shalat (tarawih) bersama kalian adalah karena aku takut jika shalat itu sampai diwajibkan atas kalian.” hadits Muttafaq ‘afaih. Lihat karya asy-syaukani, Nailul Authar, 3/61, Darul Fikr.
[27] Asy-Syathibi berkata bahwa perhatikanlah, dalam hadits ini–yakni hadits Aisyah tadi–ada indikasi yang menunjukkan bahwa perbuatan itu adalah sunnah karena, dengan kenyataan Rasulullah saw. melakukan qiyamullail Ramadhan (shalat sunnah pada malam bulan Ramadhan) dengan berjamaah di masjid, pada hari pertama dan kedua. Ini menunjukkan bahwa perbuatan itu sah dan boleh dilaksanakan. Sementara, dengan tidak keluarnya Rasulullah saw (pada malam ketiga atau keempat) itu karena mengkhawatirkan jika shalat qiyamullail Ramadhan diwajibkan bagi umat Islam, hal itu sama sekali tidak menunjukkan pelarangan perbuatan itu. Karena, masa ini adalah masa turunnya wahyu dan syariat sehingga bisa saja jika perbuatan itu kemudian diwajibkan bagi umat Islam. Oleh karena itu, ketika illat syariat itu telah hilang dengan wafatnya Rasulullah saw., maka kembalilah hukum masalah itu kepada hukum asalnya. Dengan demikian, perbuatan ihi secara jelas dibolehkan dan tidak ada penasakhan (penghapusan hukum) baginya. Lihat al-I’tishaam, 1/194.