“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” [Ibrahim 24-25]
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” [Ibrahim 24-25]
Saat ini banyak orang mengeluh akan Pemanasan Global (Global Warming). Suhu bumi meningkat. Sehingga di Puncak yang seharusnya dingin pun seperti di Taman Bunga Nusantara jadi terasa panas.
Jika tidak ada pohon yang rindang, niscaya meski di pegunungan pun akan terasa panas karena tubuh kita terkena sinar matahari secara langsung. Bunga-bunga atau pepohonan yang rendah (lebih rendah dari tinggi manusia) tidak akan memberi naungan yang sejuk bagi kita. Tak heran jika di Taman Bunga Nusantara, kita tetap merasa kepanasan di siang hari jika terkena sinar matahari yang panas.
Lihat bagaimana teduhnya bumi dengan naungan pepohonan yang rindang:
Dalam memilih pohon yang rindang juga harus hati-hati. Tidak boleh sembarang pilih agar tidak berbahaya.
Sebagai contoh, pohon Angsana meski besar dan rindang, namun batangnya rapuh dan kropos. Sehingga berbahaya bagi pengguna jalan atau pun penghuni rumah karena mudah patah dan roboh/tumbang. Pohon Angsana yang rimbun yang daunnya digemari binatang ternak seperti kambing hanya cocok di daerah perkebunan yang jauh dari jalan atau perumahan.
Pemerintah Penjajah Belanda sangat cerdas dalam memilih pohon yang tepat di pinggir jalan. Selain besar dan rimbun, pohon yang mereka pilih sangat kuat sehingga tidak mudah patah atau tumbang. Contohnya pohon Mahoni mereka tanam di kiri-kanan Jalan Raya Bogor dari Jakarta menuju Bogor sehingga jalanan jadi rimbun dan sejuk. Pohon-pohon lain yang biasa mereka tanam adalah pohon Asem dan juga pohon Pete.
Dari segi kerimbunannya, mungkin pohon Beringin sangat nyaman untuk berteduh. Namun karena amat besar, cocoknya ditanam di tengah-tengah Taman yang lapang. Bukan di pinggir jalan karena pohon beringin memiliki akar-akar gantung yang menjulur ke bawah.
Allah menggambarkan suasana teduhnya naungan di bawah pohon sehingga tidak kena sinar matahari yang panas sebagai suasana surga. Jika kita bisa merasakan itu di dunia, maka kita sudah merasakan “Surga Dunia”.
“di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan.
Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” [Al Insaan 13-14]
Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” [Al Insaan 13-14]



Categories :
Diki Pira Saputra


0 comments:
Post a Comment